Tugas untuk Kelas X IPA dan X IPS

Menurut pendapatmu apa dampak covid-19 terhadap permintaan dan penawaran harga barang dipasar yang kamu
ketahui. Panjang tulisan minimal 50 kata, jawaban paling lambat pukul 6 sore Ketik dikolom komentar atau via e_mail: amri271166@gmail.com Thanks

Komentar

ARKA mengatakan…
Kolaborasi Lawan COVID-19 untuk Atasi Dampak Ekonomi
Untuk meredam panic buying yang terjadi, diperlukan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, para pedagang, hingga para pengusahan penyedia bahan makanan.
Sejak Coronavirus Disease 2019 atau lebih sering dikenal dengan COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut.

Tidak hanya itu, bahan makanan dan sembako juga banyak diborong oleh masyarakat setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua WNI positif virus Corona pada 2 Maret lalu. Akibatnya, harga alat kesehatan termasuk masker dan hand sanitizer alami kenaikan yang signifikan hingga berkali-kali lipat.
Vira Arjuni mengatakan…
Sejak Coronavirus Disease 2019 atau lebih sering dikenal dengan COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut. Tidak hanya itu, bahan makanan dan sembako juga banyak diborong oleh masyarakat setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua WNI positif virus Corona pada 2 Maret lalu. Akibatnya, harga alat kesehatan termasuk masker dan hand sanitizer alami kenaikan yang signifikan hingga berkali-kali lipat. Penimbunan barang yang dilakukan oleh masyarakat ketika terjadi sesuatu yang dianggap darurat atau gawat dikenal dengan istilah panic buying. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartanti mengatakan, perilaku ini dipicu oleh faktor psikologis terjadi akibat informasi tidak sempurna atau menyeluruh yang diterima oleh masyarakat. Pada akhirnya, masyarakat menjadi khawatir sehingga timbul lah respons berupa belanja secara masif dalam upaya penyelamatan diri. Sementara itu, ia juga menjelaskan bahwa terdapat dua kekhawatiran yang muncul di masyarakat. Pertama, khawatir jika tidak belanja sekarang bisa saja besok harga barang naik. Kedua, jika tidak belanja sekarang, persediaan barang telah habis untuk esok hari. Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut. Lebih lanjut, daya beli masyarakat akan menurun. Misalnya, ketika uang Rp10 ribu sudah sapat digunakan untuk membeli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya telah naik hingga berkali-kali lipat. Masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama.

Rabu, 1 April 2020
Vira Arjuni
X MIPA 3
Tasya mengatakan…
COVID-19 berdampak baik bagi para produsen dan penjual topeng(masker). Forbes meminta penjualan topeng telah melonjak di seluruh dunia dengan permintaan yang meroket. Hal ini menyebabkan banyak bisnis yang menjualnya dalam jumlah besar atau berlawanan dengan jumlah pembelian oleh pelanggan.covid-19 membawa dampak negatif bagi perekonomian negara, karena wabah ini cukup menurunkan tingkat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Seiring menurunnya tingkat konsumsi maka akan mengakibatkan ketimpangan pada beberapa indikator dalam laju perekonomian. Wacana lockdown dapat membuat laju perekonomian semakin berat layaknya yang terjadi di negara Itali dan India. Tingkat konsumsi melemah yang mempengaruhi beberapa indikator penopang ekonomi. Pasokan bahan pangan dan kebutuhan yang menurun menyebabkan harga naik. Hal ini akan menimbulkan kelangkaan barang, yang akhirnya memicu keresahan sosial.
Di sisi lain, Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat kembali jatuh yang telah menyentuh angka Rp16.000. Hal ini kembali menjadi ancaman mata uang Rupiah di pasar keuangan.
Anjloknya rupiah dikarenakan merebaknya virus corona di seluruh dunia sehingga menciptakan ketidakpastian yang sangat tinggi dan mengakibatkan penurunan kinerja pasar, keuangan global,menekan banyak mata uang dunia serta pembalikan modal kepada asset keuangan yang dianggap aman.Selain itu, kemungkinan pertumbuhan ekonomi dunia akan menurun akibat rantai penawaran global, menurunnya permintaan dunia, serta lemahnya pelaku ekonomi yang menjadi beberapa faktor utama.


Tasya
Xmipa3
Rintan Sahputri mengatakan…
COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut.
Tidak hanya itu, bahan makanan dan sembako juga banyak diborong oleh masyarakat Akibatnya, harga alat kesehatan termasuk masker dan hand sanitizer alami kenaikan yang signifikan hingga berkali-kali lipat.
Penimbunan barang yang dilakukan oleh masyarakat ketika terjadi sesuatu yang dianggap darurat atau gawat dikenal dengan istilah panic buying. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartanti mengatakan, perilaku ini dipicu oleh faktor psikologis terjadi akibat informasi tidak sempurna atau menyeluruh yang diterima oleh masyarakat.

Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.

Lebih lanjut, daya beli masyarakat akan menurun. Misalnya, ketika uang Rp10 ribu sudah sapat digunakan untuk membeli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya telah naik hingga berkali-kali lipat. Masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama.


Rintan Sahputri
X.mipa 2
Maruli Anadespa mengatakan…
Apa dampak covid-19 tehadap permintaan dan penawaran harga barang dipasar yang kamu ketahui?

Sejak Corona virus disease 2019, Terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang dan juga mengalami kenaikan. Penimbunan barang yang dilakukan oleh konsumen ketika ada situasi tertentu yang dipandang gawat kerap dikenal dengan istilah PANIC BUYING. Akibatnya timbul kekhawatiran masyarakat seperti harga barang naik, jika tidak belanja sekarang maka esok hari barangnya sudah tidak ada.

Perilaku panic buying dapat menguntungkan para pemburu rente. Di sisi lain, mempersiapkan masa isolasi menurut sejumlah akademisi, adalah ekspresi dari mekanisme bertahan hidup manusia.

Penimbunan barang yang dilakukan oleh konsumen atau masyarakat ketika ada situasi tertentu yang dipandang gawat atau darurat kerap dikenal dengan istilah panic buying. Perilaku panic buying ini menurut Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dipicu oleh faktor psikologis yang biasanya terjadi karena informasi tidak sempurna atau menyeluruh yang diterima oleh masyarakat. Akibatnya, timbul kekhawatiran di masyarakat sehingga menimbulkan respons tindakan belanja secara masif sebagai upaya penyelamatan diri.
Dalam ekonomi, maraknya orang yang memburu suatu barang, seperti masker, memengaruhi sisi permintaan. Sebagaimana hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi berlaku yaitu: jika terjadi permintaan tinggi karena tidak jumlah barang yang sedikit, maka harga barang akan semakin mahal.

Sejak Coronavirus Disease 2019 atau lebih sering dikenal dengan COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut.

Pada akhirnya, masyarakat menjadi khawatir sehingga timbul lah respons berupa belanja secara masif dalam upaya penyelamatan diri.

Lebih lanjut, daya beli masyarakat akan menurun. Misalnya, ketika uang Rp10 ribu sudah sapat digunakan untuk membeli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya telah naik hingga berkali-kali lipat. Masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama.

Nama: Maruli Anadespa
Kelas: X ips 2
Nimas nabila khoirunisah mengatakan…
Covid-19 telah ditetapkan sebagai bencana nasional.

Virus yang pertama kali mewabah di Wuhan, Cina itu menyebabkan penyakit yang dikenal dengan istilah Covid-19 yang saat ini telah mewabah di belahan Dunia.

Dengan demikina virus corona sudah menjangkit manusia di beberapa negara di seluruh Dunia.

Virus Ini tidak memandang bulu, virus corona dapat menjangkit siapa saja. Muda, tua, perempuan, laki-laki, dan tidak memandang ras maupun agama.


Penderita virus corona akan mengalami gejala batuk, demam, dan sesak napas. Beberapa kasus melaporkan penderita juga mengalami diare.

Tak hanya menganggu kesehatan, virus corona juga membuat aktivitas tidak berjalan semestinya.

Masyarakat diminta untuk menjaga jarak antar sesama minimal 2 meter. Penularan virus corona cukup tinggi sehingga menjaga jarak perlu dilakukan.


Pertemuan yang melibatkan banyak orang seperti konferensi, konser dan lainnya ditunda ataupun dibatalkan.

Sekolah diliburkan. Masyarakat diminta berdiam diri di rumah bila tidak ada keperluan penting untuk berpergian.

Keadaan tersebut tentu menyusahkan banyak orang. Pertanyaan pun muncul




Nimas nabila Khoirunisah
X IPA 2
Wulandari mengatakan…
Covid-19 merupakan virus corona yang berasal dan pertama kali muncul dari kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Di duga Covid-19 ini berasal dari hewan kelewar dan setelah di telusuri, orang-orang yang terinfeksi virus ini merupakan orang-orang yang memiliki riwayat telah mengunjungi pasar basah makanan laut dan hewan lokal di Wuhan, China.dan menyebar dari orang ke orang,hingga virus ini telah sampai ke indonesia,kedatangan virus ini sangat mengacaukan perekonomian global ,dan di Indonesai berdampak pada pemerintahan dan perekonomian indonesia. Dampak pada pemerintah bisa kita lihat adanya warga indonesia yang terinfeksi virus dan menyebabkan keresahan warga yang mendesak pemerintah untuk secepatnya menangani virus ini dan banyak perekonomia negara tertunda,serta dampak pada pemasaran adalah banyak oknum mengambil kesempat dengan adanya virus ini dengan melakukan penimbunan masker ,hand sanitizer, antiseptik dan lain lain menimbulkan kelangkahan yang kemudian di jual dengan harga yg sangat mahal dan menyebabkan kenaikan harga beberapa sembako karena banyak orang menyetok banyak pangan dan bahan makanan karena pemerintah melarang keluar rumah dan mengumumkan sementara aktivitas di lockdown untuk mencegah penyebaran virus covid 19 ini
NAMA :WULANDARI
KELAS:X.MIPA 2
Maisyah Arafah mengatakan…
Virus Corona merupakan jenis baru coronavirus yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Coronavirus termasuk keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan.
Pada manusia, virus corona menyebabkan penyakit flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Sindrom Pernafasan Akut Berat. Virus yang sangat mencemaskan masyarakat hampir diseluruh dunia hingga hari ini masih menyita perhatian banyak Negara di dunia.
Penyebaran virus Corona masih menyebar secara global. Jumlah kasus baru positif Virus Corona juga bertambah cepat, terutama di China.
Jika memang memiliki gejala-gejala seperti deman tinggi, sakit kepala, flu, sesak nafas, batuk parah, dan sakit tenggorokan dihimbau untuk merujuk kerumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan.
Terkait dengan penggunaan masker hal ini menyebabkan penggunaan masker pun meningkat di Indonesia. Salah satu masker yang paling banyak permintaannya adalah masker N95 atau masker respirator.
Masker ini disebut efektif untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona di Indonesia karena mempunyai kemampuan untuk menyaring udara 95 persen. Permintaan masker di pasar-pasar di Indonesia pun meningkat. Akibatnya harga masker melambung tinggi.
Tingginya harga masker membuat para konsumen yang membutuhkan masker mengeluh akan kenaikan masker. Bahkan ada yang mendapati harga masker naik 10 kali lipat dari harga masker biasa.
Tanpa kita sadari naiknya harga masker juga berpengaruh terhadap perlindungan konsumen. Sudah saatnya kenaikan harga masker membuat konsumen mengerti akan hak-hak nya. Faktanya para konsumen tidak mengerti bahwa terdapat hak-hak mereka yang tidak terpenuhi.
Dari sekian banyak dari hak-hak konsumen, dengan kenaikan harga masker ini ada beberapa hak-hak konsumen yang dilanggar atau tidak terpenuhi.
Berikut ini tidak terpenuhi hak-hak konsumen akibat kenaikan harga masker. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau jasa.
Dari hak konsumen ini, kita tahu bahwa harga masker bukanlah harga yang sebenarnya atau tidak sesuai dengan harga normal, hal itu disebabkan oleh naiknya permintaan masker membuat harga masker juga ikut melambung tinggi.
Tindakan pelaku usaha untuk menaikkan harga tidak akan memberikan reputasi positif pada usahanya dan dapat menghambat usaha mereka di masa yang akan datang karena kekecewaan konsumen. Berikutnya hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang atau jasa yang digunakan.
Mengenai hak ini, banyaknya keluhan para konsumen yang tidak mampu membeli masker dengan harga yang tinggi sehingga para konsumen mengeluh, namun mengeluhnya konsumen itu sama sekali tidak menurunkan harga masker itu artinya keluhan konsumen tidak didengarkan bahkan tidak berpengaruh terhadap masalah atau keluhan yang ada.
Kemudian hak konsumen untuk diperlakukan atau di layani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. Seperti yang telah kita lihat dan kita ketahui bahwa beberapa waktu yang lalu telah terjadi kasus penimbunan masker dibeberapa daerah. Kasus tersebut terjadi di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur.
Hal ini tentunnya sangat melanggar hak-hak konsumen karena telah diperlakukan secara tidak jujur bahkan ada yang berbuat curang dengan cara mengumpulkan masker-masker yang sudah terpakai kemudian dijual kembali.
Hal tersebut sangat perlu diperhatikan, saatnya para konsumen mengerti akan hak-hak mereka bahkan mereka bisa melaporkan keajdian ini kepada Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), bahkan hal ini dapat menjadi acuan agar tidak ada kasus-kasus yang merugikan konsumen dan melanggar hak-hak konsumen.


Nama : Maisyah Arafah
Kelas : X.ipa 2
Muhammad roy mengatakan…
dampak dampak karena virus corana atau covid 19.

Hal tersebut berpengaruh pada perdagangan dunia termasuk di Indonesia. Penurunan permintaan bahan mentah dari China seperti batu bara dan kelapa sawit akan mengganggu sektor ekspor di Indonesia yang dapat menyebabkan penurunan harga komoditas dan barang tambang.

Penerimaan pajak sektor perdagangan juga mengalami penurunan padahal perdagangan memiliki kontribusi kedua terbesar terhadap penerimaan pajak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor migas dan non-migas mengalami penurunan yang disebabkan karena China merupakan importir minyak mentah terbesar. Selain itu, penyebaran virus Corona juga mengakibatkan penurunan produksi di China, padahal China menjadi pusat produksi barang dunia. Apabila China mengalami penurunan produksi maka global supply chain akan terganggu dan dapat mengganggu proses produksi yang membutuhkan bahan baku dari China. Indonesia juga sangat bergantung dengan bahan baku dari China terutama bahan baku plastik, bahan baku tekstil, part elektronik, komputer dan furnitur.

Virus Corona juga berdampak pada investasi karena masyarakat akan lebih berhati-hati saat membeli barang maupun berinvestasi. Virus Corona juga memengaruhi proyeksi pasar. Investor bisa menunda investasi karena ketidakjelasan supply chain atau akibat asumsi pasarnya berubah. Di bidang investasi, China merupakan salah satu negara yang menanamkan modal ke Indonesia. Pada 2019, realisasi investasi langsung dari China menenpati urutan ke dua setelah Singapura. Terdapat investasi di Sulawesi berkisar US $5 miliar yang masih dalam proses tetapi tertunda karena pegawai dari China yang terhambat datang ke Indonesia.

Virus Corona juga sangat berdampak pada sektor pariwisata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa wisatawan asal China mencapai 2.07 juta orang pada tahun 2019 yang mencakup 12.8 persen dari total wisatawan asing sepanjang 2019. Penyebaran virus Corona menyebabkan wisatawan yang berkunjung ke Indonesia akan berkurang. Sektor-sektor penunjang pariwisata seperti hotel, restoran maupun pengusaha retail pun juga akan terpengaruh dengan adanya virus Corona. Okupansi hotel mengalami penurunan sampai 40 persen yang berdampak pada kelangsungan bisnis hotel. Sepinya wisatawan juga berdampak pada restoran atau rumah makan yang sebagian besar konsumennya adalah para wisatawan. Melemahnya pariwisata juga berdampak pada industri retail. Adapun daerah yang sektor retailnya paling terdampak adalah Manado, Bali, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Medan dan Jakarta. Penyebaran virus Corona juga berdampak pada sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) karena para wisatawan yang datang ke suatu destinasi biasanya akan membeli oleh-oleh. Jika wisatawan yang berkunjung berkurang, maka omset UMKM juga akan menurun.


Nama : Muhammad Roy
kelas : x ips 1
Rabu,, 01 april 2020 11:11 WIB
Ananda Ropiana mengatakan…
Menurut pendapat saya mengenai dampak virus corona atau covid 19 pada harga permintaan dan penawaran yang saya ketahui yaitu berdampak pada perekonomian masyarakat tingkat permintaan tinggi dan pemawaran rendah. Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Infeksi virus ini disebut COVID-19 dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara, termasuk Indonesia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Sehingga masyarakat indonesia khawatir akan kesehatan mereka yaitu dengan menjaga pola hidup sehat. Seperti menggunakan masker Saat ingin bepergian tetapi sekarang stok masker terbatas dan harganya menaik drastis Dan juga harga kebutuhan pokok menaik karena barang impor dari negara luar yang harga bea cukainya.
Dampak berikutnya terjadi secara makro pada lalu lintas barang di pasar internasional karena virus diduga dapat menyebar melalui barang-barang yang diperdagangkan. Terjadi pergeseran sisi permintaaan aggregat yang menurunkan keseimbangan makro di pasar internasional. Pasar modal dan turunannya akan menerima imbas seperti menurunnya indeks saham dipasar bursa. Oleh karena itu, kejutan eksternal karena virus corona akan memberikan pengaruh menurunnya sektor kepariwisataan, kemudian terjadinya ketidakseimbangan makro seperti menurunnya ekspor dan impor. Menurunnya pengurangan ekspor sebagai salah satu bentuk penerimaan dalam negeri akan mengalami gangguan yang berakibat pada terganggunya produktifitas secara nasional.

Dalam konsep ekonomi pasar, Virus Corana adalah kejutan eksternal yang menggangu keseimbangan di pasar barang dan jasa dan pada saat yang sama mengganggu keseimbangan makro. Kejutan eksternal (external shock) akan merubah keseimbangan pasar pada tingkat harga yang lebih rendah maupun harga yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh pergeseran permintaan dan penawaran ataupun karena perubahan harga. Berbagai faktor yang berpengaruh akan melakukan penyesuaian (adjustment). Pelaku-pelaku ekonomi dipasar akan bereaksi dengan melakukan penyesuaian terhadap berbagai aspek kegiatan ekonomi. Tindakan penyesuaian berhubungan dengan seberapa besar daya tahan ekonomi terhadap gangguan tersebut melalui respon yang diberikan dan kebijakan yang dibuat untuk mengatasi dampak. Pada akhirnya setelah melakukan penyesuaian, akan tercipta keseimbangan baru dan ekonomi akan normal kembali. Keseimbangan baru bisa lebih rendah atau lebih tinggi dari keseimbangan semula. Seberapa lama proses kejutan, penyesuaian dan keadaan normal terjadi tergantung sepenuhnya pada seberapa cepat kejutan eksternal dapat diatasi.

Nama : Ananda Ropiana
Kelas: X. MIPA. 2
Gaza Al Gazali mengatakan…
Dampak ke ekonomi Indonesia dimulai dari sektor pariwisata. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjelaskan, selain sektor pariwisata ada sektor perdagangan ekspor impor yang terganggu.
“Jalur pariwisata jelas, distribusi dari perdagangan dan pasokan, dulu kita mungkin dua minggu terakhir kita melihat 27% impor nonmigas dari Tiongkok, 16,7% ekspor kita ke Tiongkok
Krisis Kemanusiaan akibat Corona,Pelemahan Rupiah dampak virus corona ini sudah mulai terasa bagi perekonomian dalam negeri. Salah satu contohnya adalah terus melemahnya nilai tukar rupiah hingga saat ini sudah mendekati angka Rp17.000 per USD.
"Ekonomi kontraksi tapi tidak berarti krisis. Ini yang sedang dilakukan. Agar krisis ini tidak timbulkan spill over ke krisis ekonomi sosial dan terutama di sektor keuangan seperit yang terjadi di 2008 2009 di mana bank-bank dan lembaga keuangan bangkrut
Ekonomi Global Terkoreksi, Corona Picu Krisis ,Corona Tekan Ekonomi RI memprediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2019 akan mengalami tekanan dan hanya tumbuh 4,5 hingga 4,9%. Hal itu, imbas dari wabah virus corona yang menyebar begitu cepat.

Nama:Gaza Al Gazali
Kelas:X IPS 2
Gaza Al Gazali mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Meliana mengatakan…
Apa dampak covid-19 tehadap permintaan dan penawaran harga barang dipasar yang kamu ketahui

Virus Corona berdampak pada sektor Perekonomian di Indonesia yaitu: menyebabkan diterapkannya sistim Social Distance, sehingga berkurangnya interaksi antar warga dan melumpuhkan Sektor Perdagangan yang menyebabkan menurunnya kegiatan Perekonomian di Indonesia.

Nama:Meliana
kls:X.ips2
Dian mareta mengatakan…
Nama:Dian mareta
Kelas:X Mipa 3
No absen:8


Covid-19 berdampak bagi Dalam ekonomi, maraknya orang yang memburu suatu barang, seperti masker, memengaruhi sisi permintaan. Sebagaimana hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi berlaku yaitu: jika terjadi permintaan tinggi karena tidak jumlah barang yang sedikit, maka harga barang akan semakin mahal.

Faktor inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para pemburu rente atau pencari keuntungan. Sebab, di tengah kondisi panic buying, masyarakat cenderung membeli barang lebih dari yang dibutuhkan. Jika hal ini dilakukan oleh banyak orang, maka akibatnya adalah terjadi kelangkaan barang yang disebabkan ketidakseimbangan antara demand dan supply. Dus, kelangkaan akibat tidak seimbangnya permintaan dan penawaran ini berujung pada kenaikan harga.

“Yang terjadi setelah kenaikan harga adalah penurunan daya beli masyarakat. Karena misal uang Rp10 ribu yang tadinya cukup untuk beli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya dua kali lipat bahkan lebih. Artinya, masyarakat harus menyiapkan uang berkali-kali lipat untuk membeli barang yang jumlahnya sama. Ini tentu bisa mengurangi daya beli masyarakat," jelas Enny.

Untuk mengantisipasi dan memitigasi terulangnya panic buying, maka diperlukan kejelasan informasi dari otoritas yang berwenang, sebut Enny. Selain itu, informasi yang disajikan pemerintah, idealnya tidak tumpang tindih. Jelasnya informasi yang diterima oleh masyarakat, lanjutnya, dapat meredam tekanan psikologis masyarakat termasuk dari berbagai macam berita hoaks.

Langkah konkret lain yang juga bisa dilakukan oleh pemerintah adalah dengan membagikan masker secara cuma-cuma atau gratis kepada masyarakat. Hal ini seperti yang pernah pemerintah RI lakukan saat mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan. Distribusi pembagian masker ini pun bisa dilakukan secara fleksibel, seperti di pusat keramaian umum, perkantoran, sekolah-sekolah, dan sebagainya.
Imel Vivian mengatakan…
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Nama : IMEL VIVIAN LAURENT
Kelas : X MIPA 1
Absen : Nomor 12
Mapel : Ekonomi Lintas Minat
Terkait Dampak COVID 19
Menurut pendapatmu apa dampak covid -19 terhadap permintaan dan penawaran harga ?

Menurut saya semenjak adanya masa pendemi COVID 19 membuat seluruh masyarakat sulit dalam memcari kebutuhsan pokok,Apalagi sekarang di indonesia sudah termasuk negara yang terjangkit virus CORONA dengan jumlah yang semakin hari semakin bertambah.Oleh karena itu sekarang di tetapkan untuk melakukan kegiatan yang bersifat dirumah saja atau bisa di bilang Lockdown. Lockdown merupakan kegiatan yang bersifat mengunci diri dari kegiatan luar yang tujuannya untuk tidak tertular Virus Corona ini.

Ketika melakukan masa lockdown banyak orang orang yang langsung membeli kebutuhan dengan ke supermarket,membeli barang dengan jumlah yang lebih , terutama dalam bahan panganan ,dan yang lebih parahnya lagi membeli masker dalam jumlah banyak serta hand sanitizer,memang ? tidak ada yang melarang kita untuk membeli masker dan hand sanitezer dalam jumlah banyak,tetapi itu semua berdampak bagi yang lain , mengapa ? karena banyak orang orang yang setiap hari nya datang ke supermarket untuk membeli masker tetapi selalu tidak ada , kosong,atau habis.

Lalu ketika barang permintaan sudah ter stok kembali,permasalahannya ada di harga , kenapa ? karena harga yang biasanya di pasang dengan nominal tertentu sekarang menjadi naik drastis, dan tidak bisa melakukan penawaraan harga , kenapa itu terjadi ? disisi lain mungkin ada kesempatan para penjual untuk mendapat untung yang berlebih dari kejadian ini,dulu sebelum ada Virus Corona ini atau covid 19 harga masker di toko seperti indomart yang menjual masker 5 pcs seharga 8.500 , di toko toko lain yang menjual masker dengan harga 2000 menjadi 3000 bahkan ada yang sampai 4000. Dan bahkan sekarang masker tergolong langka dan susah di cari.

Tak hanya itu juga sembako sekarang naik seperti bawang merah menjadi Rp.44.000 dari harga normal Rp28.000, Bawang putih Rp40.000 dengan harga normal Rp32.000,Gula pasir Rp18.000 harga normal Rp14.000,minyak 1 liter Rp13.000 normal 12.500,berbeda dengan cabai dan beras , mengapa ? contoh nya di daerah saya di Teluk Gelam rata rata adalah petani mulai dari petani cabai,sawah,karet,dan masih banyak lagi,sehingga harga beras dan cabai masih dengan harga yang sama atau normal.

Seharusnya menurut saya pemerintah tahu akan kondisi perekonomian sekarang , menimbulkan berbagai dampak yang sangat perlu di tindak lanjuti seperti kenaikan bahan panganan,kelangkaan masker serta hand sanitizer , dan mengenai harga barang yang di jual dengan harga yang tinggi .jika bagi orang yang mampu mereka menganggap semua nya mudah , namun ? apa yang terjadi kepada masyarakat yang sangat berkecukupan ? bisa bisa mereka hanya makan nasi saja karena bahan pokok melonjak naik.Satulagi kita masyarakat tidak bisa juga melakukan penawaran harga kepada penjual sesuai dengan keinginan kita,mengapa ? Karena bisa merugikan penjual .

Jadi itu tadi pendapat saya mengenai dampak virus Corona bagi kehidupan sekarang ini
Saya imel vivian laurent , mohon maaf bila ada kesalahan kata
#tetapdirumah
#kerjadirumah
#dirumahaja
Terima kasih , Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Windi patricia mengatakan…
Penerimaan pajak sektor perdagangan juga mengalami penurunan padahal perdagangan memiliki kontribusi kedua terbesar terhadap penerimaan pajak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor migas dan non-migas mengalami penurunan yang disebabkan karena China merupakan importir minyak mentah terbesar. Selain itu, penyebaran virus Corona juga mengakibatkan penurunan produksi di China, padahal China menjadi pusat produksi barang dunia. Apabila China mengalami penurunan produksi maka global supply chain akan terganggu dan dapat mengganggu proses produksi yang membutuhkan bahan baku dari China. Indonesia juga sangat bergantung dengan bahan baku dari China terutama bahan baku plastik, bahan baku tekstil, part elektronik, komputer dan furnitur.

Nama :Windi patricia
Kelas:X IPS 2
Aliffia Dwi Suraya mengatakan…
𝘕𝘢𝘮𝘢 : 𝘈𝘭𝘪𝘧𝘧𝘪𝘢 𝘋𝘸𝘪 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘺𝘢
𝘒𝘦𝘭𝘢𝘴 : 𝘟.𝘔𝘐𝘗𝘈 2
𝘕𝘰. 𝘈𝘣𝘴𝘦𝘯 : 02

𝗠𝗲𝗻𝘂𝗿𝘂𝘁 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁𝗺𝘂 𝗮𝗽𝗮 𝗱𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸 𝗰𝗼𝘃𝗶𝗱 𝟭𝟵 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗽𝗲𝗿𝗺𝗶𝗻𝘁𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗮𝘄𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗽𝗮𝘀𝗮𝗿 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗸𝗲𝘁𝗮𝗵𝘂𝗶

Munculnya virus Corona atau covid 19 yang sekarang tengah heboh diseluruh dunia dan mengancam semua jiwa manusia ini membuat masyarakat menjadi khawatir akan keluar rumah. Oleh sebab itu banyak sekali masyarakat yang memburu untuk memborong sembako, masker, dan hand sanitizer dalam jumlah yang banyak.

Dalam ekonomi, maraknya orang yang memburu suatu barang, seperti masker, memengaruhi sisi permintaan. Sebagaimana hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi berlaku yaitu: jika terjadi permintaan tinggi karena tidak jumlah barang yang sedikit, maka harga barang akan semakin mahal.

Faktor inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para pemburu rente atau pencari keuntungan.

di tengah kondisi panic buying atau 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗹𝗶 𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗷𝘂𝗺𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝘁𝗶𝘀𝗶𝗽𝗮𝘀𝗶 𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝗯𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮, masyarakat cenderung membeli barang lebih dari yang dibutuhkan. Jika hal ini dilakukan oleh banyak orang, maka akibatnya adalah terjadi kelangkaan barang yang disebabkan ketidakseimbangan antara demand dan supply. Kelangkaan akibat tidak seimbangnya permintaan dan penawaran ini berujung pada kenaikan harga.

Oleh karena inilah terjadilah penurunan daya beli masyarakat terhadap barang-barang tersebut karena mereka harus menyiapkan dua kali lipat atau lebih uang untuk membeli satu barang.
Rhegina abelia mengatakan…
1. Dampak ke Pariwisata dan Perdagangan

Sri Mulyani mengatakan, perekonomian dunia dan Indonesia terdampak penyebaran virus corona. Bahkan proyeksi ekonomi dunia direvisi dipangkas karena pandemi corona.

Sementara dampak ke ekonomi Indonesia dimulai dari sektor pariwisata. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjelaskan, selain sektor pariwisata ada sektor perdagangan ekspor impor yang terganggu.

“Jalur pariwisata jelas, distribusi dari perdagangan dan pasokan, dulu kita mungkin dua minggu terakhir kita melihat 27% impor nonmigas dari Tiongkok, 16,7% ekspor kita ke Tiongkok. Jadi apakah China akan mengendalikan dan me-recover itu akan sangat menentukan kita, dari sisi ekspor, impor dan pariwisata,” jelasnya

Nama:Meliana
Kls:x.ips2
Rhegina abelia mengatakan…
1. Dampak ke Pariwisata dan Perdagangan

Sri Mulyani mengatakan, perekonomian dunia dan Indonesia terdampak penyebaran virus corona. Bahkan proyeksi ekonomi dunia direvisi dipangkas karena pandemi corona.

Sementara dampak ke ekonomi Indonesia dimulai dari sektor pariwisata. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjelaskan, selain sektor pariwisata ada sektor perdagangan ekspor impor yang terganggu.

“Jalur pariwisata jelas, distribusi dari perdagangan dan pasokan, dulu kita mungkin dua minggu terakhir kita melihat 27% impor nonmigas dari Tiongkok, 16,7% ekspor kita ke Tiongkok. Jadi apakah China akan mengendalikan dan me-recover itu akan sangat menentukan kita, dari sisi ekspor, impor dan pariwisata,” jelasnya


Nama:Rhegina
Kls:X.ips2
Astrid Juniarti mengatakan…
Dalam konsep ekonomi pasar, Covid-19 menggangu keseimbangan di pasar barang dan jasa dan pada saat yang sama mengganggu keseimbangan makro. Kejutan eksternal (external shock) akan merubah keseimbangan pasar pada tingkat harga yang lebih rendah maupun harga yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh pergeseran permintaan dan penawaran ataupun karena perubahan harga. Berbagai faktor yang berpengaruh akan melakukan penyesuaian (adjustment). Pelaku-pelaku ekonomi dipasar akan bereaksi dengan melakukan penyesuaian terhadap berbagai aspek kegiatan ekonomi. Tindakan penyesuaian berhubungan dengan seberapa besar daya tahan ekonomi terhadap gangguan tersebut melalui respon yang diberikan dan kebijakan yang dibuat untuk mengatasi dampak. Pada akhirnya setelah melakukan penyesuaian, akan tercipta keseimbangan baru dan ekonomi akan normal kembali. Keseimbangan baru bisa lebih rendah atau lebih tinggi dari keseimbangan semula. Seberapa lama proses kejutan, penyesuaian dan keadaan normal terjadi tergantung sepenuhnya pada seberapa cepat kejutan eksternal dapat diatasi.

Nama:Astrid juniarti
Kls:X.ips2
Harum fitri mengatakan…
Sejak Coronavirus Disease 2019 atau lebih sering dikenal dengan COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut.Penimbunan barang yang dilakukan oleh masyarakat ketika terjadi sesuatu yang dianggap darurat atau gawat dikenal dengan istilah panic buying.Pada akhirnya, masyarakat menjadi khawatir sehingga timbul lah respons berupa belanja secara masif dalam upaya penyelamatan diri.

Sementara itu, ia juga menjelaskan bahwa terdapat dua kekhawatiran yang muncul di masyarakat. Pertama, khawatir jika tidak belanja sekarang bisa saja besok harga barang naik. Kedua, jika tidak belanja sekarang, persediaan barang telah habis untuk esok hari.

Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.

Lebih lanjut, daya beli masyarakat akan menurun. Misalnya, ketika uang Rp10 ribu sudah sapat digunakan untuk membeli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya telah naik hingga berkali-kali lipat. Masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama.Wabah SARS-CoV-2 atau COVID-19 berdampak baik untuk para produsen dan penjual masker. Forbes menuliskan bahwa penjualan masker telah melonjak di seluruh dunia dengan permintaan yang meroket. Hal ini menyebabkan banyak bisnis yang menjualnya besar-besaran atau justru membatasi jumlah pembelian oleh pelanggan.Memilih untuk panic buying atau berbelanja sesuai kebutuhan sepenuhnya ada di tangan konsumen. Namun, ada baiknya untuk tetap menjaga tindakan agar tidak merugikan orang lain. Sebab, dengan panic buying, boleh jadi yang diuntungkan adalah para pemburu rente dan, sebaliknya, orang-orang yang benar-benar membutuhkan yang dirugikan.
Harum fitri mengatakan…
Sejak Coronavirus Disease 2019 atau lebih sering dikenal dengan COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut.Penimbunan barang yang dilakukan oleh masyarakat ketika terjadi sesuatu yang dianggap darurat atau gawat dikenal dengan istilah panic buying.Pada akhirnya, masyarakat menjadi khawatir sehingga timbul lah respons berupa belanja secara masif dalam upaya penyelamatan diri.

Sementara itu, ia juga menjelaskan bahwa terdapat dua kekhawatiran yang muncul di masyarakat. Pertama, khawatir jika tidak belanja sekarang bisa saja besok harga barang naik. Kedua, jika tidak belanja sekarang, persediaan barang telah habis untuk esok hari.

Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.

Lebih lanjut, daya beli masyarakat akan menurun. Misalnya, ketika uang Rp10 ribu sudah sapat digunakan untuk membeli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya telah naik hingga berkali-kali lipat. Masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama.Wabah SARS-CoV-2 atau COVID-19 berdampak baik untuk para produsen dan penjual masker. Forbes menuliskan bahwa penjualan masker telah melonjak di seluruh dunia dengan permintaan yang meroket. Hal ini menyebabkan banyak bisnis yang menjualnya besar-besaran atau justru membatasi jumlah pembelian oleh pelanggan.Memilih untuk panic buying atau berbelanja sesuai kebutuhan sepenuhnya ada di tangan konsumen. Namun, ada baiknya untuk tetap menjaga tindakan agar tidak merugikan orang lain. Sebab, dengan panic buying, boleh jadi yang diuntungkan adalah para pemburu rente dan, sebaliknya, orang-orang yang benar-benar membutuhkan yang dirugikan.


Nama:Harum Fitri
Kls: X IPS 2
Jeni mengatakan…
Terjadi penurunan bahan mentah dari china seperti batu bara dan kelapa sawit akan menganggu sektor ekspor di indonesia yang dapat menyebabkan penurunan harga komoditas dan barang tambang.

Penerimaan pajak sektor perdagangan juga mengalami penurunan padahal perdagangan memiliki kontribusi kedua terbesar terhadap penerimaan pajak.
Selain itu penyebaran virus covid 19 mengakibatkan penurunan produksi di china. Padahal shina menjadi pusat barang di dunia.

Di sisi lain virus covid 19 tidak hanya berdampak negatif, namun juga dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian indonesia. Salah satunya adalah terbukanya peluang pasar ekspor baru selain china.selain it peluang memperkuat ekonomi negeri juga dapat terlaksana karena pemerintah akan lebih memperioritaskn dan memperkuat daya beli dalam negeri dari pada menarik keuntungan dari luar negeri.

Nama: Jeni
Kls: x ips 2

Rabu, 01 April 15.43.00 WIB
Unknown mengatakan…
Penerimaan pajak sektor perdagangan juga mengalami penurunan padahal perdagangan memiliki kontribusi kedua terbesar terhadap penerimaan pajak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor migas dan non-migas mengalami penurunan yang disebabkan karena China merupakan importir minyak mentah terbesar. Selain itu, penyebaran virus Corona juga mengakibatkan penurunan produksi di China, padahal China menjadi pusat produksi barang dunia. Apabila China mengalami penurunan produksi maka global supply chain akan terganggu dan dapat mengganggu proses produksi yang membutuhkan bahan baku dari China. Indonesia juga sangat bergantung dengan bahan baku dari China terutama bahan baku plastik, bahan baku tekstil, part elektronik, komputer dan furnitur.

Nama:Dina Lorenza
Kelas:X.Ips²
Nadia afifah mengatakan…
Nama:nadia afifah
Kelas:X ipa 2
Menurut saya dampak permintaan dan penawaran harga barang di pasar akibat covid-19 ialah:
karna di indonesia sekarang sedang pandemi corona dan di himbau kepada masyarakat untuk stay-home (tetap di rumah) maka pembeli di pasar jadi sedikit sedangkan pedagang atau penjual banyak.maka terjadilah hukum permintaan dan hukum penawaran yaitu apabila permintaan barang di pasar sedikit sedang kan penjual atau penawaran barang banyak maka harga menjadi turun ini berlaku untuk barang-barang konsumsi rumah tangga seperti sayur mayur,ikan,yaitu kebutuhan sehari-hari
tetapi kalau untuk barang-barang seperti masker,antiseptik,maka terjadilah harganya naik karna permintaan barang tersebut banyak sedangkan penawaran barang sedikit maka harga akan naik
Nadia afifah mengatakan…
Nama:nadia afifah
Kelas:X ipa 2
Menurut saya dampak permintaan dan penawaran harga barang di pasar akibat covid-19 ialah:
karna di indonesia sekarang sedang pandemi corona dan di himbau kepada masyarakat untuk stay-home (tetap di rumah) maka pembeli di pasar jadi sedikit sedangkan pedagang atau penjual banyak.maka terjadilah hukum permintaan dan hukum penawaran yaitu apabila permintaan barang di pasar sedikit sedang kan penjual atau penawaran barang banyak maka harga menjadi turun ini berlaku untuk barang-barang konsumsi rumah tangga seperti sayur mayur,ikan,yaitu kebutuhan sehari-hari
tetapi kalau untuk barang-barang seperti masker,antiseptik,maka terjadilah harganya naik karna permintaan barang tersebut banyak sedangkan penawaran barang sedikit maka harga akan naik
Jadi akibat atau dampak dari pandemi covid-19 ini adalah menurunnya jumlah perekonomian masyarakat atau juga dapat berdampak pada ekonomi negara.
Dyah Rofi'a Rahmawati mengatakan…
Nama:Dyah Rofi'a Rahmawati
Kelas:X MIPA 2
No absen :09

Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Sebagai contoh adalah masker dan hand sanitizer dua barang ini lah yang sedang diburu oleh masyarakat .Dengan kata lain, harga barang tersebut akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.

Lebih lanjut, daya beli masyarakat akan menurun. Misalnya, ketika uang Rp10 ribu sudah sapat digunakan untuk membeli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya telah naik hingga berkali-kali lipat. Masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama.
Azza Rozalina Haidir mengatakan…
Misalnya di suatu daerah melaksanakan kebijakan untuk lockdown , masyarakat di daerah tersebut yang paling utama dibutuhkan adalah keburukan pokok. Dengan tujuan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari selama lockdown dilaksanakan.

Selama itu, produksi kebutuhan barang pokok oleh produsen akan berkurang. Maka dengan itu permintaan masyarakat terhadap kebutuhan pokok akan meningkat. Penawarannya pun akan meningkat . Seperti harga barang, akan meningkat berkali-kali lipat lebih mahal dari harga sebelumnya. Masyarakat akan tetap membeli barang tersebut karena memang sangat dibutuhkan.

Hal inilah yang akan memicu perekonomian di Indonesia menjadi anjlok atau semakin menurun.

Nama: Azza Rozalina Haidir
Kelas: X.IPA 4
No. Absen : 05
Dewi sartika mengatakan…
Assalamualaikum pak
Nama:Dewi sartika
Kelas:X.ips3
No absen:4
Menurut pendapat saya tentang dampak permintaan dan penawaran di pasar akibat Covid-19

Virus corana sangatlah berbahaya,sesuai dengan keputusan pemerintah kita harus tetap ada di rumah dan tidak perkepergian kemana-mana,dan apabila keluar rumah kita harus ketempat yg tidak ramai dan berjarak kurang lebih 1 meter dengan orang lain dampaknya penurunan dan penawaran di pasar ialah berakibat pada menurunnya sektor pariwisata manca Negara. Dampak berikutnya terjadi secara makro pada lalu lintas barang di pasar internasional karena virus diduga dapat menyebar melalui barang-barang yang diperdagangkan. Terjadi pergeseran sisi permintaaan aggregat yang menurunkan keseimbangan makro di pasar internasional. Pasar modal dan turunannya akan menerima imbas seperti menurunnya indeks saham dipasar bursa. Oleh karena itu, kejutan eksternal karena virus corona akan memberikan pengaruh menurunnya sektor kepariwisataan, kemudian terjadinya ketidakseimbangan makro seperti menurunnya ekspor dan impor. Menurunnya pengurangan ekspor sebagai salah satu bentuk penerimaan dalam negeri akan mengalami gangguan yang berakibat pada terganggunya produktifitas secara nasional.

Dalam konsep ekonomi pasar, Virus Corana adalah kejutan eksternal yang menggangu keseimbangan di pasar barang dan jasa dan pada saat yang sama mengganggu keseimbangan makro. Kejutan eksternal (external shock)  akan merubah keseimbangan pasar pada tingkat harga yang lebih rendah maupun harga yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh pergeseran permintaan dan penawaran ataupun karena perubahan harga. Berbagai faktor yang berpengaruh akan melakukan penyesuaian (adjustment).  Pelaku-pelaku ekonomi dipasar akan bereaksi dengan melakukan penyesuaian terhadap berbagai aspek kegiatan ekonomi. 
Dan dengan adanya virus corona sangat merugikan orang banyak,dan untuk keselamatan bersama lebih baik stay with home
mutiara khoiryah mengatakan…
Nama: Mutiara khoiryah
Kelas: X IPA 2

Sejak Coronavirus Disease 2019 atau lebih sering dikenal dengan COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut. Tidak hanya itu, bahan makanan dan sembako juga banyak diborong oleh masyarakat setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua WNI positif virus Corona pada 2 Maret lalu. Akibatnya, harga alat kesehatan termasuk masker dan hand sanitizer alami kenaikan yang signifikan hingga berkali-kali lipat.
Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka.
Andi Sangkut mengatakan…
Nama:Andi Sangkut
Kelas :X Ips 2
Daya tahan ekonomi diukur dari tingkat kesiapan masyarakat dan tingkat ketepatan kebijakan pemerintah dalam menghadapinya. Dari pengalaman empiris perekonomian Indonesia dalam menghadapi kejutan eksternal dan kejutan internal seperti krisis moneter, desa dengan struktur ekonomi agraris cenderung memiliki daya tahan dan punya kemampuan untuk melakukan penyesuaian sehingga dampak yang timbul dari adanya virus Corona tidak akan berpengaruh besar dalam perekonomian khususnya masyarakat di desa. Indikator ekonomi daya tahan ekonomi dapat dilihat dari seberapa besar kebutuhan pokok diproduksi lokal. agraris. Kebijakan pemberian dana desa bagi seluruh desa di Indonesia dengan jumlah yang besar adalah suntikan modal yang dapat mendorong ketahanan dan peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat desa dan mempunyai dampak multiplier yang tinggi bagi peningkatan produktifitas desa. Peruntukan dana desa yang tepat sasaran akan menciptakan kemampuan ekonomi yang mandiri bagi masyarakat desa. Jika manajemen dana desa dikaitkan dengan program membangun yang terkait ekonomi antar desa di satu daerah, atau antar satu daerah dengan daerah yang lain dalam satu provinsi maka basis ekonomi masyarakat desa akan tumbuh dengan nilai tambah yang besar. Oleh karena itu, peran perencanaan dana desa dalam rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMdes) menjadi sangat penting dan strategis apalagi bila perencanaan tersebut didasarkan pada perencanaan dari desa, desa ke daerah menjadi satu sinerjitas perencanaan yang berbasis pembangunan desa. Disisi lain program sektoral dapat bersinergi dengan program pembangunan desa.
Andi Sangkut mengatakan…
Nama :Andi Sangkut
Kelas :X Ips 2
Daya tahan ekonomi diukur dari tingkat kesiapan masyarakat dan tingkat ketepatan kebijakan pemerintah dalam menghadapinya. Dari pengalaman empiris perekonomian Indonesia dalam menghadapi kejutan eksternal dan kejutan internal seperti krisis moneter, desa dengan struktur ekonomi agraris cenderung memiliki daya tahan dan punya kemampuan untuk melakukan penyesuaian sehingga dampak yang timbul dari adanya virus Corona tidak akan berpengaruh besar dalam perekonomian khususnya masyarakat di desa. Indikator ekonomi daya tahan ekonomi dapat dilihat dari seberapa besar kebutuhan pokok diproduksi lokal. agraris. Kebijakan pemberian dana desa bagi seluruh desa di Indonesia dengan jumlah yang besar adalah suntikan modal yang dapat mendorong ketahanan dan peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat desa dan mempunyai dampak multiplier yang tinggi bagi peningkatan produktifitas desa. Peruntukan dana desa yang tepat sasaran akan menciptakan kemampuan ekonomi yang mandiri bagi masyarakat desa. Jika manajemen dana desa dikaitkan dengan program membangun yang terkait ekonomi antar desa di satu daerah, atau antar satu daerah dengan daerah yang lain dalam satu provinsi maka basis ekonomi masyarakat desa akan tumbuh dengan nilai tambah yang besar. Oleh karena itu, peran perencanaan dana desa dalam rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMdes) menjadi sangat penting dan strategis apalagi bila perencanaan tersebut didasarkan pada perencanaan dari desa, desa ke daerah menjadi satu sinerjitas perencanaan yang berbasis pembangunan desa. Disisi lain program sektoral dapat bersinergi dengan program pembangunan desa.
Unknown mengatakan…
Covid-19 atau lebih kita kenal dengan virus corona yang saat ini tengah mewabah di negara kita tercinta ini.
Virus corona merupakan virus yang sangat membahayakan yang dapat menyebabkan kematian.
Virus ini pertama kali ditemukan di kota wuhan, China pada akhir desember 2019 kemarin.
Virus ini dengan cepat menyebar kebeberapa negara seperti, China, Italia, Amerika Serikat, Korea Selatan, Indonesia dan masih banyak lagi.
Virus ini dapat tertular apabila kita berinteraksi langsung dengan pasien yang terinfeksi Covid-19.
Di Indonesia sendiri sudah lebih dari 1000 orang yang positif terkena virus ini.
Semenjak di umumkanya 2 warga negara di Indonesia yang postif Terkena Covid-19,masyarakat langsung menerapkan pola hidup sehat,bahkan warga langsung berbondong-bondong membeli beberapa alat kesehatan seperti hand sanitizer, antiseptik dan masker.
Karena ini beberapa alat kesehatan banyak habis terjual,ini dapat menyebabkan kelangkahan untuk dibeberapa daerah.bahkan harganya melonjak naik 3 kali lipat dari seperti yang biasanya.

Adanya Covid-19 berdampak dalam sektor perkenomian masyarakat dalam hal permintaan dan penawaran.

•Permintaan

Permintaan masyarakat pada beberapa barang yang di inginkan tidak dapat terpenuhi karena adanya kelangkahan dalam mendapatkan barang.

•Penawaran

Harga barang tidak bisa dilakukan penurunan atau pengurangan karena harga penjualan barang sangat tipis.


Nama: Putri Mardia
Kelas : X ips 3
Anonim mengatakan…
Nama:Andi Sangkut
Kelas :X Ips 2
Daya tahan ekonomi diukur dari tingkat kesiapan masyarakat dan tingkat ketepatan kebijakan pemerintah dalam menghadapinya. Dari pengalaman empiris perekonomian Indonesia dalam menghadapi kejutan eksternal dan kejutan internal seperti krisis moneter, desa dengan struktur ekonomi agraris cenderung memiliki daya tahan dan punya kemampuan untuk melakukan penyesuaian sehingga dampak yang timbul dari adanya virus Corona tidak akan berpengaruh besar dalam perekonomian khususnya masyarakat di desa. Indikator ekonomi daya tahan ekonomi dapat dilihat dari seberapa besar kebutuhan pokok diproduksi lokal. agraris. Kebijakan pemberian dana desa bagi seluruh desa di Indonesia dengan jumlah yang besar adalah suntikan modal yang dapat mendorong ketahanan dan peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat desa dan mempunyai dampak multiplier yang tinggi bagi peningkatan produktifitas desa. Peruntukan dana desa yang tepat sasaran akan menciptakan kemampuan ekonomi yang mandiri bagi masyarakat desa. Jika manajemen dana desa dikaitkan dengan program membangun yang terkait ekonomi antar desa di satu daerah, atau antar satu daerah dengan daerah yang lain dalam satu provinsi maka basis ekonomi masyarakat desa akan tumbuh dengan nilai tambah yang besar. Oleh karena itu, peran perencanaan dana desa dalam rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMdes) menjadi sangat penting dan strategis apalagi bila perencanaan tersebut didasarkan pada perencanaan dari desa, desa ke daerah menjadi satu sinerjitas perencanaan yang berbasis pembangunan desa. Disisi lain program sektoral dapat bersinergi dengan program pembangunan desa.
Anonim mengatakan…
Virus Corona juga berdampak pada investasi karena masyarakat akan lebih berhati-hati saat membeli barang maupun berinvestasi. Virus Corona juga memengaruhi proyeksi pasar. Investor bisa menunda investasi karena ketidakjelasan supply chain atau akibat asumsi pasarnya berubah. Di bidang investasi, China merupakan salah satu negara yang menanamkan modal ke Indonesia. Pada 2019, realisasi investasi langsung dari China menenpati urutan ke dua setelah Singapura. Terdapat investasi di Sulawesi berkisar US $5 miliar yang masih dalam proses tetapi tertunda karena pegawai dari China yang terhambat datang ke Indonesia.

Indonesia adalah salah satu negara yang memberlakukan larangan perjalanan ke dan dari China untuk mengurangi penyebaran virus Corona. Larangan ini menyebabkan sejumlah maskapai membatalkan penerbangannya dan beberapa maskapai terpaksa tetap beroperasi meskipun mayoritas bangku pesawatnya kosong demi memenuhi hak penumpang. Para konsumen banyak yang menunda pemesanan tiket liburannya karena semakin meluasnya penyebaran virus Corona. Keadaan ini menyebabkan pemerintah bertindak dengan memberikan diskon untuk para wisatawan dengan tujuan Denpasar, Batam, Bintan, Manado, Yogyakarta, Labuan Bajo, Belitung, Lombok, Danau Toba dan Malang. Di Eropa juga memberlakukan aturan dimana maskapai penerbangan harus menggunakan sekitar 80 persen slot penerbangan yang beroperasi ke luar benua Eropa agar tidak kehilangan slot ke maskapai pesaingnya. Bukan hanya di Indonesia yang membatasi perjalanan ke China, namun negara-negara yang lain seperti Italia, China, Singapura, Rusia, Australia dan negara lain juga memberlakukan hal yang sama
Unknown mengatakan…
Virus Corona juga berdampak pada investasi karena masyarakat akan lebih berhati-hati saat membeli barang maupun berinvestasi. Virus Corona juga memengaruhi proyeksi pasar. Investor bisa menunda investasi karena ketidakjelasan supply chain atau akibat asumsi pasarnya berubah. Di bidang investasi, China merupakan salah satu negara yang menanamkan modal ke Indonesia. Pada 2019, realisasi investasi langsung dari China menenpati urutan ke dua setelah Singapura. Terdapat investasi di Sulawesi berkisar US $5 miliar yang masih dalam proses tetapi tertunda karena pegawai dari China yang terhambat datang ke Indonesia.

Indonesia adalah salah satu negara yang memberlakukan larangan perjalanan ke dan dari China untuk mengurangi penyebaran virus Corona. Larangan ini menyebabkan sejumlah maskapai membatalkan penerbangannya dan beberapa maskapai terpaksa tetap beroperasi meskipun mayoritas bangku pesawatnya kosong demi memenuhi hak penumpang. Para konsumen banyak yang menunda pemesanan tiket liburannya karena semakin meluasnya penyebaran virus Corona. Keadaan ini menyebabkan pemerintah bertindak dengan memberikan diskon untuk para wisatawan dengan tujuan Denpasar, Batam, Bintan, Manado, Yogyakarta, Labuan Bajo, Belitung, Lombok, Danau Toba dan Malang. Di Eropa juga memberlakukan aturan dimana maskapai penerbangan harus menggunakan sekitar 80 persen slot penerbangan yang beroperasi ke luar benua Eropa agar tidak kehilangan slot ke maskapai pesaingnya. Bukan hanya di Indonesia yang membatasi perjalanan ke China, namun negara-negara yang lain seperti Italia, China, Singapura, Rusia, Australia dan negara lain juga memberlakukan hal yang sama

Nama:Nabitafitaloka
Kelas:x.ips3
Noabsen:16
Unknown mengatakan…
Nama :Fani Agustina
Kelas:X.Mipa 4
Penyebaran virus Corona masih menyebar secara global. Jumlah kasus baru positif Virus Corona juga bertambah cepat, terutama di China.
Jika memang memiliki gejala-gejala seperti deman tinggi, sakit kepala, flu, sesak nafas, batuk parah, dan sakit tenggorokan dihimbau untuk merujuk kerumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan.
Terkait dengan penggunaan masker hal ini menyebabkan penggunaan masker pun meningkat di Indonesia. Salah satu masker yang paling banyak permintaannya adalah masker N95 atau masker respirator.
Masker ini disebut efektif untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona di Indonesia karena mempunyai kemampuan untuk menyaring udara 95 persen. Permintaan masker di pasar-pasar di Indonesia pun meningkat. Akibatnya harga masker melambung tinggi.
Tingginya harga masker membuat para konsumen yang membutuhkan masker mengeluh akan kenaikan masker. Bahkan ada yang mendapati harga masker naik 10 kali lipat dari harga masker biasa.
Tanpa kita sadari naiknya harga masker juga berpengaruh terhadap perlindungan konsumen. Sudah saatnya kenaikan harga masker membuat konsumen mengerti akan hak-hak nya. Faktanya para konsumen tidak mengerti bahwa terdapat hak-hak mereka yang tidak terpenuhi.
Dari sekian banyak dari hak-hak konsumen, dengan kenaikan harga masker ini ada beberapa hak-hak konsumen yang dilanggar atau tidak terpenuhi.
Herlin nur selena mengatakan…
Sejak Corona virus atau COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut. Pada akhirnya, masyarakat menjadi khawatir sehingga timbul lah respons berupa belanja secara masif dalam upaya penyelamatan diri. bahan makanan dan sembako juga banyak diborong oleh masyarakat setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua WNI positif virus Corona pada 2 Maret lalu. Akibatnya, harga alat kesehatan termasuk masker dan hand sanitizer alami kenaikan yang signifikan hingga berkali-kali lipat.. Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.(https://tirto.id)

contoh barang sembako yang lagi naik yaitu harga gula naik hingga 76 persen menjadi Rp 22.000 per kg dibanding Harga Eceran Tertinggi (HET) yang hanya Rp 12.500 per kg. Harga gula tertinggi mencapai Rp 22.000 per kg pada tanggal 15 Maret 2020.(https//kumparan.com).

Nama:Herlin nur selena
Kelas:x mipa 4
Dinda dwi natasya mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Dinda dwi natasya mengatakan…
Penyebaran virus Corona masih menyebar secara global. Jumlah kasus baru positif Virus Corona juga bertambah cepat, terutama di China.
Jika memang memiliki gejala-gejala seperti deman tinggi, sakit kepala, flu, sesak nafas, batuk parah, dan sakit tenggorokan dihimbau untuk merujuk kerumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan.
Terkait dengan penggunaan masker hal ini menyebabkan penggunaan masker pun meningkat di Indonesia. Salah satu masker yang paling banyak permintaannya adalah masker N95 atau masker respirator.
Masker ini disebut efektif untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona di Indonesia karena mempunyai kemampuan untuk menyaring udara 95 persen. Permintaan masker di pasar-pasar di Indonesia pun meningkat. Akibatnya harga masker melambung tinggi.
Tingginya harga masker membuat para konsumen yang membutuhkan masker mengeluh akan kenaikan masker. Bahkan ada yang mendapati harga masker naik 10 kali lipat dari harga masker biasa.
Tanpa kita sadari naiknya harga masker juga berpengaruh terhadap perlindungan konsumen. Sudah saatnya kenaikan harga masker membuat konsumen mengerti akan hak-hak nya. Faktanya para konsumen tidak mengerti bahwa terdapat hak-hak mereka yang tidak terpenuhi.
Dari sekian banyak dari hak-hak konsumen, dengan kenaikan harga masker ini ada beberapa hak-hak konsumen yang dilanggar atau tidak terpenuhi.
Nama: dinda dwi natasya
Kelas: X MIPA 4
Vyvy rusmainka putri mengatakan…
Nama:vyvy rusmainka putri
Kls:x.mipa 4

Menurut pendapat saya mengenai dampak virus corona atau covid 19 pada harga permintaan dan penawaran yang saya ketahui yaitu berdampak pada perekonomian masyarakat tingkat permintaan tinggi dan pemawaran rendah. Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Infeksi virus ini disebut COVID-19 dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara, termasuk Indonesia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Sehingga masyarakat indonesia khawatir akan kesehatan mereka yaitu dengan menjaga pola hidup sehat. Seperti menggunakan masker Saat ingin bepergian tetapi sekarang stok masker terbatas dan harganya menaik drastis Dan juga harga kebutuhan pokok menaik karena barang impor dari negara luar yang harga bea cukainya.
Dampak berikutnya terjadi secara makro pada lalu lintas barang di pasar internasional karena virus diduga dapat menyebar melalui barang-barang yang diperdagangkan. Terjadi pergeseran sisi permintaaan aggregat yang menurunkan keseimbangan makro di pasar internasional. Pasar modal dan turunannya akan menerima imbas seperti menurunnya indeks saham dipasar bursa. Oleh karena itu, kejutan eksternal karena virus corona akan memberikan pengaruh menurunnya sektor kepariwisataan, kemudian terjadinya ketidakseimbangan makro seperti menurunnya ekspor dan impor. Menurunnya pengurangan ekspor sebagai salah satu bentuk penerimaan dalam negeri akan mengalami gangguan yang berakibat pada terganggunya produktifitas secara nasional.
Putri mengatakan…
Assalamualaikum
Nama:Putri
Kelas:X MIPA 6
No.absen: 21


-Apa dampak covid-19 terhadap permintaan dan penawaran harga barang dipasar yang kamu ketahui?
Jawab:
Menurut saya,Dampak dari covid-19 yaitu,
Dalam konsep ekonomi pasar, Virus Corana adalah kejutan eksternal yang menggangu keseimbangan di pasar barang dan jasa dan pada saat yang sama mengganggu keseimbangan makro. Kejutan eksternal (external shock)  akan merubah keseimbangan pasar pada tingkat harga yang lebih rendah maupun harga yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh pergeseran permintaan dan penawaran ataupun karena perubahan harga.
Secara dampak diperekonomian Indonesia sendiri, salah satu faktor dari Virus Corona (Virus Covid 19) menyebabkan kurs dollar terhadap rupiah meninggi hingga mencapai 16.000 / $US. Bahkan laporan dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan terjadi penurunan dalam beberapa minggu terkahir. Indeks Harga Saham Gabungan merupakan salah satu indeks pasar saham yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia.
Penyebaran virus bernama Covid-19 yang telah menyebar ke negara di luar China dalam beberapa minggu terakhir telah mengakibatkan kejatuhan ekonomi yang signifikan. Rantai pasokan terganggu dan permintaan konsumsi domestik di negara-negara terdampak saat ini sedang tertekan. Sektor pariwisata dan perdagangan mengalami pelemahan terbesar.
pada akhirnya, masyarakat menjadi khawatir sehingga timbullah respons berupa belanja secara masif dalam upaya penyelamatan diri.Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan.Dengan kata lain,harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka.Inilah yang kemudian terjadi akibat panic buying(panik membeli) tersebut.
Faktor inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para pemburu rente atau pencari keuntungan. Sebab, di tengah kondisi panic buying, masyarakat cenderung membeli barang lebih dari yang dibutuhkan. Jika hal ini dilakukan oleh banyak orang, maka akibatnya adalah terjadi kelangkaan barang yang disebabkan ketidak seimbangan antara demand dan supply. Dus, kelangkaan akibat tidak seimbangnya permintaan dan penawaran ini berujung pada kenaikan harga. 
Terdapat 2 kekhawatiran yang muncul dimasyarakat,yaitu:
1.khawatir jika tidak belanja sekarang bisa saja besok harga barang naik.
2.Jika tidak belanja sekarang, persediaan barang telah habis untuk esok hari.
Ica mahdiyyah mengatakan…
Pandemi virus COVID-19 atau yang umum disebut virus Korona di masyarakat kian hari semakin menjangkiti perekonomian Indonesia. Dampak ekonomi akibat virus ini semula hanya menggerus sisi eksternal perekonomianIndonesia melalui kenaikan sejumlah komoditas impor dari China.

Namun, seiring penyebaran virus yang sangat cepat. [Sampai dengan 23 Maret 2020, sebanyak 579 orang di Indonesia positif Korona, sembuh 30 orang, dan 49 meninggal dunia (Pusat Informasi COVID-19, 2020)], stabilitas perekonomian pun terkena dampak.
Nilai tukar rupiah terus melemah tajam, sementara pasar bursa pun meradang seiring laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi dalam. Pertumbuhan ekonomi pun diperkirakan akanmelambat drastis, terkikis oleh penjalaran dampak virus ke berbagai sektor di perekonomian.
Penimbunan barang yang dilakukan oleh masyarakat ketika terjadi sesuatu yang dianggap darurat atau gawat dikenal dengan istilah panic buying. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartanti mengatakan, perilaku ini dipicu oleh faktor psikologis terjadi akibat informasi tidak sempurna atau menyeluruh yang diterima oleh masyarakat.
Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan merok et akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.
Akibatnya ekonomi masyarakat akan terkuras habis karna adanya panic buying tersebut.
Ica mahdiyyah mengatakan…
Ica mahdiyyah
XMIPA6
PENDAPAT SAYA TENTANG VIRUS COVID-19 :

Pandemi virus COVID-19 atau yang umum disebut virus Korona di masyarakat kian hari semakin menjangkiti perekonomian Indonesia. Dampak ekonomi akibat virus ini semula hanya menggerus sisi eksternal perekonomianIndonesia melalui kenaikan sejumlah komoditas impor dari China.

Namun, seiring penyebaran virus yang sangat cepat. [Sampai dengan 23 Maret 2020, sebanyak 579 orang di Indonesia positif Korona, sembuh 30 orang, dan 49 meninggal dunia (Pusat Informasi COVID-19, 2020)], stabilitas perekonomian pun terkena dampak.
Nilai tukar rupiah terus melemah tajam, sementara pasar bursa pun meradang seiring laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi dalam. Pertumbuhan ekonomi pun diperkirakan akanmelambat drastis, terkikis oleh penjalaran dampak virus ke berbagai sektor di perekonomian.
Penimbunan barang yang dilakukan oleh masyarakat ketika terjadi sesuatu yang dianggap darurat atau gawat dikenal dengan istilah panic buying. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartanti mengatakan, perilaku ini dipicu oleh faktor psikologis terjadi akibat informasi tidak sempurna atau menyeluruh yang diterima oleh masyarakat.
Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan merok et akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.
Akibatnya ekonomi masyarakat akan terkuras habis karna adanya panic buying tersebut.
jenny sasmita sari mengatakan…
Nama: Jenny Sasmita Sari
Kelas: X mipa 6

Penyebaran virus Corona yang telah meluas ke berbagai belahan dunia membawa dampak pada perekonomian dunia baik dari sisi perdagangan, investasi dan pariwisata.

China merupakan negara eksportir terbesar dunia. Indonesia sering melakukan kegiatan impor dari China dan China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Adanya virus Corona yang terjadi di China menyebabkan perdagangan China memburuk. Hal tersebut berpengaruh pada perdagangan dunia termasuk di Indonesia. Penurunan permintaan bahan mentah dari China seperti batu bara dan kelapa sawit akan mengganggu sektor ekspor di Indonesia yang dapat menyebabkan penurunan harga komoditas dan barang tambang.

Penerimaan pajak sektor perdagangan juga mengalami penurunan padahal perdagangan memiliki kontribusi kedua terbesar terhadap penerimaan pajak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor migas dan non-migas mengalami penurunan yang disebabkan karena China merupakan importir minyak mentah terbesar. Selain itu, penyebaran virus Corona juga mengakibatkan penurunan produksi di China, padahal China menjadi pusat produksi barang dunia. Apabila China mengalami penurunan produksi maka global supply chain akan terganggu dan dapat mengganggu proses produksi yang membutuhkan bahan baku dari China. Indonesia juga sangat bergantung dengan bahan baku dari China terutama bahan baku plastik, bahan baku tekstil, part elektronik, komputer dan furnitur.
Virus Corona juga berdampak pada investasi karena masyarakat akan lebih berhati-hati saat membeli barang maupun berinvestasi. Virus Corona juga memengaruhi proyeksi pasar. Investor bisa menunda investasi karena ketidakjelasan supply chain atau akibat asumsi pasarnya berubah. Di bidang investasi, China merupakan salah satu negara yang menanamkan modal ke Indonesia. Pada 2019, realisasi investasi langsung dari China menenpati urutan ke dua setelah Singapura. Terdapat investasi di Sulawesi berkisar US $5 miliar yang masih dalam proses tetapi tertunda karena pegawai dari China yang terhambat datang ke Indonesia.

Indonesia adalah salah satu negara yang memberlakukan larangan perjalanan ke dan dari China untuk mengurangi penyebaran virus Corona. Larangan ini menyebabkan sejumlah maskapai membatalkan penerbangannya dan beberapa maskapai terpaksa tetap beroperasi meskipun mayoritas bangku pesawatnya kosong demi memenuhi hak penumpang. Para konsumen banyak yang menunda pemesanan tiket liburannya karena semakin meluasnya penyebaran virus Corona. Keadaan ini menyebabkan pemerintah bertindak dengan memberikan diskon untuk para wisatawan dengan tujuan Denpasar, Batam, Bintan, Manado, Yogyakarta, Labuan Bajo, Belitung, Lombok, Danau Toba dan Malang. Di Eropa juga memberlakukan aturan dimana maskapai penerbangan harus menggunakan sekitar 80 persen slot penerbangan yang beroperasi ke luar benua Eropa agar tidak kehilangan slot ke maskapai pesaingnya. Bukan hanya di Indonesia yang membatasi perjalanan ke China, namun negara-negara yang lain seperti Italia, China, Singapura, Rusia, Australia dan negara lain juga memberlakukan hal
Nadia Khairunnisa mengatakan…
Nama:Nadia Khairunnisa
Kelas:x.mipa 4

Menurut pendapatmu apa dampak covid-19 terhadap permintaan dan penawaran harga barang dipasar?

Jawaban:
Covid-19 menjadi wabah di hampir seluruh dunia.virus ini menyebabkan persediaan masker,alat pelindung diri,dan hand sanitizer mengalami kelangkaan .Hal tersebut disebabkan karena masyarakat melakukan penimbunan yang digunakan jika sewaktu-waktu pemerintah memperlakukan kebijakan lockdown dan juga karena takut harga barang barang tersebut mengalami kenaikan yang signifikan.
Tidak hanya itu banyak bahan pangan di borong masyarakat sehingga saat bahan pangan tersebut ready stok lagi barang tersebut telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Di dalam ekonomi,terdapat suatu hukum permintaan dan penawaran. Jika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlah nya yang relatif sedikit maka penawaran terhadap harga barang tersebut juga mengalami kenaikan. Dengan istilah lain ,harga akan mengalami kenaikan harga akibat permintaan yang tinggi dan penawaran /penjualan akan semakin banyak tetapi dengan harga yang yang lebih tinggi.akibatnya daya beli masyarakat menurun dan akan menyebabkan anjloknya perekonomian indonesia dan sekarang dollar AS menginjak Rp.17.000 itu berarti indonesia akan semakin terpuruk dengan keadaan belum lagi ditambah dengan wabah yang sedang mewabah di indonesia ini.
Unknown mengatakan…
NAMA. : CITRA SAKINAH
KELAS. : X IPS 1
DIKUMPUL HARI : JUM'AT

Sejak Coronavirus Disease 2019 atau lebih sering dikenal dengan COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut. Pada akhirnya, masyarakat menjadi khawatir sehingga timbul lah respons berupa belanja secara masif dalam upaya penyelamatan diri.

Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.

Lebih lanjut, daya beli masyarakat akan menurun. Misalnya, ketika uang Rp10 ribu sudah sapat digunakan untuk membeli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya telah naik hingga berkali-kali lipat. Masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama. Dan pembelian sekarang pun dibatasi dengan beras maksimal 10 kg, gula maksimal 4 kg, minyak goreng maksimal 4 liter, dan mie instan maksimal 2 kardus.
Dinda putri valentine mengatakan…
Dampak COVID-19 terhadap permintaan dan penawaran harga barang.
Menurut saya dampak COVID-19 terhadap permintaan dan penawaran harga barang dipasar sekarang sangat mengkhawatirkan.karena permintaan dan penawaran ini berasal dari perekonomian warga sekitar.
Sekarang pemerintah mengeluarkan kebijakan yaitu dengan lockdown atau hanya berdiam diri dirumah. Dengan adanya kebijakan tersebut,maka kita diwajibkan untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah dirumah,dan aktivitas lain yang harus selalu dirumah.
Menurut saya, kebijakan ini kurang efektif karena bagaimana nasib seorang pedagang pasar,jika pasar ditutup,maka seorang pedagang tidak akan mendapatkan uang dan mereka pasti merasakan kekurangan.ada baiknya pemerintah mengeluarkan kebijakan yaitu social distace dan physical distance atau menjaga jarak antara satu orang dengan yang lainnya.ini lebih efektif dari adanya lockdown,jika kebijakan ini dilakukan mungkin saja seorang pedagang tidak akan merasakan kekurangan karena mereka masih bisa tetap untuk berjualan walaupun tidak sebanyak permintaan dan penawaran sebelumnya.


Nama :Dinda putri valentine
Kelas :X MIPA 4
No absen : 08
Windy Septiani mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Windy Septiani mengatakan…
Dampak covid-19 terhadap pemerintahan di Indonesia menjadi kacau akibat wabah ini, seperti yang kita ketahui para pemudik terpaksa tidak diperbolehkan untuk mudik ke kampung halamannya, pemerintah pun sangat sulit untuk mencari solusi atas wabah ini, para siswa dan pra mahasiswa terpaksa di liburkan dan harus belajar online di rumahnya masing-masing, serta para pegawai negeri pun dibatasi jam kerjanya mulai dari pukul 08.00-10.00 WIB

Dampak covid-19 terhadap penawaran harga barang di pasar sangat berpengaruh terhadap harga sembako yang melonjak naik dan sulit untuk di temukan. Contohnya seperti gula, harga gula sangat mahal dan kapasitas gula pun menjadi sulit di temukan.

Covid-19 sangat menggangu mari kita lawan covid-19 dengan berdiam diri dirumah dan menjaga kesehatan fisik serta selalu rajin mencuci tangan menggunakan sabun
#stayhome
#staysafe
#stayhealthy



Nama: Windy Septiani
Kelas: X MIPA 6
No. Absen: 31
Unknown mengatakan…
Nama : Shofy Amelia Putri
Kelas : X IPA 4
No. Absen : 25

Dampak adanya Covid-19 ini adalah perekonomian masyarakat menjadi tidak stabil dan menurun. Permintaan masyarakat semakin meningkat dan penawaran pun menjadi meningkat. Bahan pokok yang menjadi naik harga dan mau tidak mau masyarakat harus membeli kebutuhan pokok itu karena kebutuhan pokok itu sangat diperlukan sekali oleh masyarakat oleh adanya virus Covid-19 ini. Masyarakat banyak yang memborong bahan makanan pokok karena di Indonesia sudah diberlakukannya Lockdown, dan semua tempat-tempat umum seperti tempat ibadah, pasar, dan pusat perbelanjaan lainnya sudah ditutup demi untuk mencegah penularan virus Corona atau Covid-19 ini. Pekerjaan dan aktivitas lain menjadi terhambat dan sekolah-sekolah menjadi diliburkan untuk waktu yang sangat lama. Tetapi untuk kebaikan kita semua jadi patuhilah semua kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah.
Unknown mengatakan…
Nama:Dimas Abelio
Kelas:X Mipa 1
No absen:8


Covid-19 berdampak bagi Dalam ekonomi, maraknya orang yang memburu suatu barang, seperti masker, memengaruhi sisi permintaan. Sebagaimana hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi berlaku yaitu: jika terjadi permintaan tinggi karena tidak jumlah barang yang sedikit, maka harga barang akan semakin mahal.

Faktor inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para pemburu rente atau pencari keuntungan. Sebab, di tengah kondisi panic buying, masyarakat cenderung membeli barang lebih dari yang dibutuhkan. Jika hal ini dilakukan oleh banyak orang, maka akibatnya adalah terjadi kelangkaan barang yang disebabkan ketidakseimbangan antara demand dan supply. Dus, kelangkaan akibat tidak seimbangnya permintaan dan penawaran ini berujung pada kenaikan harga.

“Yang terjadi setelah kenaikan harga adalah penurunan daya beli masyarakat. Karena misal uang Rp10 ribu yang tadinya cukup untuk beli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya dua kali lipat bahkan lebih. Artinya, masyarakat harus menyiapkan uang berkali-kali lipat untuk membeli barang yang jumlahnya sama. Ini tentu bisa mengurangi daya beli masyarakat," jelas Enny.

Untuk mengantisipasi dan memitigasi terulangnya panic buying, maka diperlukan kejelasan informasi dari otoritas yang berwenang, sebut Enny. Selain itu, informasi yang disajikan pemerintah, idealnya tidak tumpang tindih. Jelasnya informasi yang diterima oleh masyarakat, lanjutnya, dapat meredam tekanan psikologis masyarakat termasuk dari berbagai macam berita hoaks.

Langkah konkret lain yang juga bisa dilakukan oleh pemerintah adalah dengan membagikan masker secara cuma-cuma atau gratis kepada masyarakat. Hal ini seperti yang pernah pemerintah RI lakukan saat mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan. Distribusi pembagian masker ini pun bisa dilakukan secara fleksibel, seperti di pusat keramaian umum, perkantoran, sekolah-sekolah, dan sebagainya.
Unknown mengatakan…
Nama:Dimas Abelio
Kelas:X Mipa 1
No absen:8


Covid-19 berdampak bagi Dalam ekonomi, maraknya orang yang memburu suatu barang, seperti masker, memengaruhi sisi permintaan. Sebagaimana hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi berlaku yaitu: jika terjadi permintaan tinggi karena tidak jumlah barang yang sedikit, maka harga barang akan semakin mahal.

Faktor inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para pemburu rente atau pencari keuntungan. Sebab, di tengah kondisi panic buying, masyarakat cenderung membeli barang lebih dari yang dibutuhkan. Jika hal ini dilakukan oleh banyak orang, maka akibatnya adalah terjadi kelangkaan barang yang disebabkan ketidakseimbangan antara demand dan supply. Dus, kelangkaan akibat tidak seimbangnya permintaan dan penawaran ini berujung pada kenaikan harga.

“Yang terjadi setelah kenaikan harga adalah penurunan daya beli masyarakat. Karena misal uang Rp10 ribu yang tadinya cukup untuk beli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya dua kali lipat bahkan lebih. Artinya, masyarakat harus menyiapkan uang berkali-kali lipat untuk membeli barang yang jumlahnya sama. Ini tentu bisa mengurangi daya beli masyarakat," jelas Enny.

Untuk mengantisipasi dan memitigasi terulangnya panic buying, maka diperlukan kejelasan informasi dari otoritas yang berwenang, sebut Enny. Selain itu, informasi yang disajikan pemerintah, idealnya tidak tumpang tindih. Jelasnya informasi yang diterima oleh masyarakat, lanjutnya, dapat meredam tekanan psikologis masyarakat termasuk dari berbagai macam berita hoaks.

Langkah konkret lain yang juga bisa dilakukan oleh pemerintah adalah dengan membagikan masker secara cuma-cuma atau gratis kepada masyarakat. Hal ini seperti yang pernah pemerintah RI lakukan saat mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan. Distribusi pembagian masker ini pun bisa dilakukan secara fleksibel, seperti di pusat keramaian umum, perkantoran, sekolah-sekolah, dan sebagainya.
Ghaisani Ikramina mengatakan…
Sejak Coronavirus Disease 2019 atau lebih sering dikenal dengan COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut. Tidak hanya itu, bahan makanan dan sembako juga banyak diborong oleh masyarakat setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua WNI positif virus Corona pada 2 Maret lalu. Akibatnya, harga alat kesehatan termasuk masker dan hand sanitizer alami kenaikan yang signifikan hingga berkali-kali lipat. Penimbunan barang yang dilakukan oleh masyarakat ketika terjadi sesuatu yang dianggap darurat atau gawat dikenal dengan istilah panic buying. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartanti mengatakan, perilaku ini dipicu oleh faktor psikologis terjadi akibat informasi tidak sempurna atau menyeluruh yang diterima oleh masyarakat. Pada akhirnya, masyarakat menjadi khawatir sehingga timbul lah respons berupa belanja secara masif dalam upaya penyelamatan diri. Sementara itu, ia juga menjelaskan bahwa terdapat dua kekhawatiran yang muncul di masyarakat. Pertama, khawatir jika tidak belanja sekarang bisa saja besok harga barang naik. Kedua, jika tidak belanja sekarang, persediaan barang telah habis untuk esok hari. Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut. Lebih lanjut, daya beli masyarakat akan menurun. Misalnya, ketika uang Rp10 ribu sudah sapat digunakan untuk membeli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya telah naik hingga berkali-kali lipat. Masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama.


Nama: Ghaisani ikramina
Kelas: X mipa 2
No.Absen: 11
Aisyah putrj mengatakan…
Nama: Aisyah putri Ramadhani
Kelas: X IPA 4
No Absen: 01

Menurut HUMAS UISU, dilansir bahwa.
Dalam konsep ekonomi pasar, Virus Corana adalah kejutan eksternal yang menggangu keseimbangan di pasar barang dan jasa dan pada saat yang sama mengganggu keseimbangan makro. Kejutan eksternal (external shock) akan merubah keseimbangan pasar pada tingkat harga yang lebih rendah maupun harga yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh pergeseran permintaan dan penawaran ataupun karena perubahan harga. Berbagai faktor yang berpengaruh akan melakukan penyesuaian (adjustment). Pelaku-pelaku ekonomi dipasar akan bereaksi dengan melakukan penyesuaian terhadap berbagai aspek kegiatan ekonomi. Tindakan penyesuaian berhubungan dengan seberapa besar daya tahan ekonomi terhadap gangguan tersebut melalui respon yang diberikan dan kebijakan yang dibuat untuk mengatasi dampak. Pada akhirnya setelah melakukan penyesuaian, akan tercipta keseimbangan baru dan ekonomi akan normal kembali. Keseimbangan baru bisa lebih rendah atau lebih tinggi dari keseimbangan semula. Seberapa lama proses kejutan, penyesuaian dan keadaan normal terjadi tergantung sepenuhnya pada seberapa cepat kejutan eksternal dapat diatasi.

Seperti kita ambil contoh, banyaknya permintaan stock maskerdan hanya yang angka nilai jualnya melonjak tinggi.
Rafly saputra mengatakan…
Terdapat dua bentuk kekhawatiran yang terjadi di masyarakat. Pertama adalah khawatir kalau tidak belanja sekarang, bisa saja besok harga barang naik. Kedua, jika tidak belanja sekarang, maka esok hari barangnya sudah tidak ada. "Seperti inilah kondisi panic buyingyang sekarang ini terjadi, terutama untuk masker.

Dalam ekonomi, maraknya orang yang memburu suatu barang, seperti masker, memengaruhi sisi permintaan. Sebagaimana hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi berlaku yaitu: jika terjadi permintaan tinggi karena tidak jumlah barang yang sedikit, maka harga barang akan semakin mahal.

Faktor inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para pemburu rente atau pencari keuntungan. Sebab, di tengah kondisi panic buying, masyarakat cenderung membeli barang lebih dari yang dibutuhkan. Jika hal ini dilakukan oleh banyak orang, maka akibatnya adalah terjadi kelangkaan barang yang disebabkan ketidakseimbangan antara demand dan supply. Dus, kelangkaan akibat tidak seimbangnya permintaan dan penawaran ini berujung pada kenaikan harga.

“Yang terjadi setelah kenaikan harga adalah penurunan daya beli masyarakat. Karena misal uang Rp10 ribu yang tadinya cukup untuk beli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya dua kali lipat bahkan lebih. Artinya, masyarakat harus menyiapkan uang berkali-kali lipat untuk membeli barang yang jumlahnya sama. Ini tentu bisa mengurangi daya beli masyarakat," 

Nama:rafly saputra
Kelas:X IPS1
NO ABSEN:22
Virus covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus SARS CO-2 yang di indentifikasi berasal dari kota Wuhan tepatnya di negeri china.
Covid-19 menjadi wabah di hampir seluruh dunia.virus ini menyebabkan persediaan masker,alat pelindung diri,dan hand sanitizer mengalami kelangkaan .Hal tersebut disebabkan karena masyarakat melakukan penimbunan yang digunakan jika sewaktu-waktu pemerintah memperlakukan kebijakan lockdown dan juga karena takut harga barang barang tersebut mengalami kenaikan yang signifikan.
Tidak hanya itu banyak bahan pangan di borong masyarakat sehingga saat bahan pangan tersebut ready stok lagi barang tersebut telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan dalam membuat barang barang tersebut menjadi langka.
Di dalam ekonomi,terdapat suatu hukum permintaan dan penawaran. Jika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlah nya yang relatif sedikit maka penawaran terhadap harga barang tersebut juga mengalami kenaikan. Dengan istilah lain ,harga akan mengalami kenaikan harga akibat permintaan yang tinggi dan penawaran /penjualan akan semakin banyak tetapi dengan harga yang yang lebih tinggi.akibatnya daya beli masyarakat menurun dan akan menyebabkan anjloknya perekonomian indonesia dan sekarang dollar AS menginjak Rp.17.000 itu berarti indonesia akan semakin terpuruk dengan keadaan belum lagi ditambah dengan wabah yang sedang mewabah di indonesia ini.



Nama : Nadya Naisanafah Khairunisa
Kelas : X IPA 6
No. Absen : 18
Unknown mengatakan…
COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut.
Tidak hanya itu, bahan makanan dan sembako juga banyak diborong oleh masyarakat Akibatnya, harga alat kesehatan termasuk masker dan hand sanitizer alami kenaikan yang signifikan hingga berkali-kali lipat.
Penimbunan barang yang dilakukan oleh masyarakat ketika terjadi sesuatu yang dianggap darurat atau gawat dikenal dengan istilah panic buying. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartanti mengatakan, perilaku ini dipicu oleh faktor psikologis terjadi akibat informasi tidak sempurna atau menyeluruh yang diterima oleh masyarakat.

Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.

Lebih lanjut, daya beli masyarakat akan menurun. Misalnya, ketika uang Rp10 ribu sudah sapat digunakan untuk membeli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya telah naik hingga berkali-kali lipat. Masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama.


Nama:habiburrahman
Kelas: x mipa 2
No absen: 13

Dira Permata Sari mengatakan…
Nama:DIRA PERMATA SARI
Kelas:X.IPA6
No absen:07

Menurut saya Dampak nya permintaan dan penawara yaitu,Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit sedangkan penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.

Lebih lanjut, daya beli masyarakat akan menurun. Misalnya, ketika uang Rp10 ribu sudah sapat digunakan untuk membeli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya telah naik hingga berkali-kali lipat. Masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama.
Annisa wahyuni mengatakan…
Nama :Annisa wahyuni
Kelas:X IPA 6
No. Absen:02

Sejak Coronavirus Disease 2019 atau lebih sering dikenal dengan COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut.

Tidak hanya itu, bahan makanan dan sembako juga banyak diborong oleh masyarakat setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua WNI positif virus Corona pada 2 Maret lalu. Akibatnya, harga alat kesehatan termasuk masker dan hand sanitizer alami kenaikan yang signifikan hingga berkali-kali lipat.

Penimbunan barang yang dilakukan oleh masyarakat ketika terjadi sesuatu yang dianggap darurat atau gawat dikenal dengan istilah panic buying. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartanti mengatakan, perilaku ini dipicu oleh faktor psikologis terjadi akibat informasi tidak sempurna atau menyeluruh yang diterima oleh masyarakat.

Pada akhirnya, masyarakat menjadi khawatir sehingga timbul lah respons berupa belanja secara masif dalam upaya penyelamatan diri.

Sementara itu, ia juga menjelaskan bahwa terdapat dua kekhawatiran yang muncul di masyarakat. Pertama, khawatir jika tidak belanja sekarang bisa saja besok harga barang naik. Kedua, jika tidak belanja sekarang, persediaan barang telah habis untuk esok hari.

Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.

Lebih lanjut, daya beli masyarakat akan menurun. Misalnya, ketika uang Rp10 ribu sudah sapat digunakan untuk membeli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya telah naik hingga berkali-kali lipat. Masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama.





Vania mei zahra mengatakan…
Nama: Vania Mei Zahra
Kelas: X IPA 4
No.absen:29

Sejak Coronavirus Disease 2019 atau lebih sering dikenal dengan COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut.

Tidak hanya itu, bahan makanan dan sembako juga banyak diborong oleh masyarakat setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua WNI positif virus Corona pada 2 Maret lalu. Akibatnya, harga alat kesehatan termasuk masker dan hand sanitizer alami kenaikan yang signifikan hingga berkali-kali lipat.

Penimbunan barang yang dilakukan oleh masyarakat ketika terjadi sesuatu yang dianggap darurat atau gawat dikenal dengan istilah panic buying. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartanti mengatakan, perilaku ini dipicu oleh faktor psikologis terjadi akibat informasi tidak sempurna atau menyeluruh yang diterima oleh masyarakat.

Pada akhirnya, masyarakat menjadi khawatir sehingga timbul lah respons berupa belanja secara masif dalam upaya penyelamatan diri.

Sementara itu, ia juga menjelaskan bahwa terdapat dua kekhawatiran yang muncul di masyarakat. Pertama, khawatir jika tidak belanja sekarang bisa saja besok harga barang naik. Kedua, jika tidak belanja sekarang, persediaan barang telah habis untuk esok hari.

Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.

Lebih lanjut, daya beli masyarakat akan menurun. Misalnya, ketika uang Rp10 ribu sudah sapat digunakan untuk membeli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya telah naik hingga berkali-kali lipat. Masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama.
Mercy anjelika mengatakan…
Nama = Mercy snjelika
Kelas  = X IPA 6

*Permintaan dan penawaran barang di pasar akibat virus Covid19*

Permintaan dan penawaran di pasar semakin menurun karena pedagang di pasar tidak lagi banyak yang berdagang di karenakan penjual atau pembeli harus tetap berada di dalam dirumah

Rasa takut, cemas, panik, misalnya, muncul karena melihat langkanya masker atau kekhawatiran akan terjadi sesuatu sehingga terjadi panic buying.
Perilaku panic buying dipicu oleh faktor psikologis yang biasanya terjadi karena informasi yang tidak sesuai yang diterima oleh masyarakat. Sehingga , timbul kekhawatiran dan menimbulkan respons tindakan yang berlebihan saat berbelanja demi memenuhi kebutuhan

Terdapat dua bentuk kekhawatiran yang terjadi adalah "Seperti inilah kondisi panic buying yang sekarang ini terjadi, terutama untuk masker,

Dalam ekonomi, maraknya orang yang memburu suatu barang, seperti masker, memengaruhi sisi permintaan. Sebagaimana hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi berlaku yaitu: jika terjadi permintaan tinggi karena tidak jumlah barang yang sedikit, maka harga barang akan semakin mahal.

Faktor inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para pemburu rente atau pencari keuntungan. Sebab, di tengah kondisi panic buying, masyarakat cenderung membeli barang lebih dari yang dibutuhkan. Jika hal ini dilakukan oleh banyak orang, maka akibatnya adalah terjadi kelangkaan barang yang disebabkan ketidakseimbangan antara demand dan supply. Dus, kelangkaan akibat tidak seimbangnya permintaan dan penawaran ini berujung pada kenaikan harga.

Yang terjadi setelah kenaikan harga adalah penurunan daya beli masyarakat. yang tadinya cukup untuk beli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya dua kali lipat bahkan lebih. Ini tentu bisa mengurangi daya beli masyarakat.

Untuk mengantisipasi terulangnya panic buying, maka diperlukan kejelasan informasi . Selain itu, informasi yang disajikan pemerintah, idealnya tidak tumpang tindih. lanjutnya, dapat meredam tekanan psikologis masyarakat termasuk dari berbagai macam berita hoaks.

“Sehingga masyarakat tidak merasa khawatir untuk membeli masker di pasaran dan tidak dimanfaatkan oleh para pemburu rente yang menjual dengan harga yang amat mahal,

Pemerintah harus bertindak cepat dan menetapkan kebijakan-kebijakan untuk mencegah penularan Virus Corona. Salah satunya adalah kebijakan untuk menurunkan kembali harga masker.
Pemerintah bisa menetapkan batas harga atas atau membatasi harga eceran yang direkomendasikan untuk masker. Ditambah lagi pemerintah juga harus memberikan bantuan masker kepada masyarakat yang kurang mampu.
Megawati mengatakan…
Di dalam ekonomi,terdapat suatu hukum permintaan dan penawaran. Jika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlah nya yang relatif sedikit maka penawaran terhadap harga barang tersebut juga mengalami kenaikan. Dengan istilah lain ,harga akan mengalami kenaikan harga akibat permintaan yang tinggi dan penawaran /penjualan akan semakin banyak tetapi dengan harga yang yang lebih tinggi.akibatnya daya beli masyarakat menurun dan akan menyebabkan anjloknya perekonomian indonesia dan sekarang dollar AS menginjak Rp.17.000 itu berarti indonesia akan semakin terpuruk dengan keadaan belum lagi ditambah dengan wabah yang sedang mewabah di indonesia ini.
Virus ini menyebabkan bahan pangan di borong Masyarakat sehingga saat bahan pangan tersebut ready stok lagi barang tersebut telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Dan virus ini menyebabkan persediaan masker, alat pelindung diri,dan hand sanitizer mengalami kelangkaan,hal tersebut disebabkan karena masyarakat melakukan penimbunan yang di gunakan jika sewaktu-waktu pemerintah memperlukan kebijakan lockdown dan juga karena takut harga barang barang tersebut mengalami kenaikan yang signifikan

Nama:Mega Wati
Kelas:X.ipa6
Jumat,3 april 2020,11.05 wib
Lidya diansari mengatakan…
Sejak coronavirus disease 2019 atau lebih sering dikenal dengan Covid 19 menjadi wabah dihampir seluruh negara di dunia, persediaan masker , larutan pembunuh kuman dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan .hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut.

Tidak hanya itu bahan makanan dan sembako juga banyak diborong oleh masyarakat setelah presidem joko widodo mengumumkan adanya dua WNI positif virus corona pada 2 maret lalu .akibatnya harga alat kesehatan termasuk masker dan hand senitizer alami kenaikan yang signifikan hingga berkali - kali lipat

Dalam ekonomi terdapat teori permintaan dan penawaran ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlah nya sedikit , penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan , dengan kata lain harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka .inilah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut

Lebih lanjut ,daya beli masyarakat akan menurun misalnya ketika uang Rp.10 ribu sudah dapat digunakan untuk membeli masker ,sehingga tidak cukup lagi karena harganya sudah naik hingga berkali - kali lipat .masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama.
Anonim mengatakan…
Nama: Rudi Alamsyah Prasetyawan
Kls: X.IPS.3


Kolaborasi Lawan COVID-19 untuk Atasi Dampak Ekonomi
Untuk meredam panic buying yang terjadi, diperlukan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, para pedagang, hingga para pengusahan penyedia bahan makanan.
Sejak Coronavirus Disease 2019 atau lebih sering dikenal dengan COVID-19 menjadi wabah di hampir seluruh negara di dunia, persediaan masker, larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainnya mengalami kelangkaan. Hal ini disebabkan oleh penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mencegah penularan virus tersebut.

Tidak hanya itu, bahan makanan dan sembako juga banyak diborong oleh masyarakat setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua WNI positif virus Corona pada 2 Maret lalu. Akibatnya, harga alat kesehatan termasuk masker dan hand sanitizer alami kenaikan yang signifikan hingga berkali-kali lipat.
Megawati mengatakan…
Nama:Yunita
Kelas:x.ipa.6


Virus ini menyebabkan bahan pangan di borong Masyarakat sehingga saat bahan pangan tersebut ready stok lagi barang tersebut telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Dan virus ini menyebabkan persediaan masker, alat pelindung diri,dan hand sanitizer mengalami kelangkaan,hal tersebut disebabkan karena masyarakat melakukan penimbunan yang di gunakan jika sewaktu-waktu pemerintah memperlukan kebijakan lockdown dan juga karena takut harga barang barang tersebut mengalami kenaikan yang signifikan
Di dalam ekonomi,terdapat suatu hukum permintaan dan penawaran. Jika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlah nya yang relatif sedikit maka penawaran terhadap harga barang tersebut juga mengalami kenaikan. Dengan istilah lain ,harga akan mengalami kenaikan harga akibat permintaan yang tinggi dan penawaran /penjualan akan semakin banyak tetapi dengan harga yang yang lebih tinggi.akibatnya daya beli masyarakat menurun dan akan menyebabkan anjloknya perekonomian indonesia dan sekarang dollar AS menginjak Rp.17.000 itu berarti indonesia akan semakin terpuruk dengan keadaan belum lagi ditambah dengan wabah yang sedang mewabah di indonesia ini.

Jumat 3 april 2020
11:00 wib
Seto Prasetyo mengatakan…
dibaca normal 4 menit Home Ekonomi Panic Buying dan Dampaknya Terhadap Ekonomi Penulis: Dea Chadiza Syafina 12 Maret 2020 Perilaku panic buying dapat menguntungkan para pemburu rente. Di sisi lain, mempersiapkan masa isolasi menurut sejumlah akademisi, adalah ekspresi dari mekanisme bertahan hidup manusia. tirto.id - Hampir setiap hari memang Ayu terbiasa membeli bahan makanan di pasar dekat rumah tinggalnya. Termasuk pada Selasa (3/3/2020), tepat satu hari setelah pengumuman resmi dua warga negara Indonesia dinyatakan terpapar virus Corona oleh Presiden RI, Joko Widodo. Ayu tidak menyangka bahwa hari itu pasar yang biasa ia sambangi akan penuh sesak dengan pembeli. Ia bahkan menjadi saksi betapa banyak orang yang memborong bahan pangan, mulai dari daging ayam, beras, gula, sampai bahan pokok lainnya. Tak hanya itu, orang-orang pun banyak yang memborong bumbu dapur seperti jahe dan yang lainnya. “Fresh Market Kota Wisata Cibubur kemarin itu udah kayak lebaran, sampai banyak toko yang kehabisan stok sembako. Pasar penuhnya ampun-ampun, sampai gerak aja susah,” cerita Ayu mengawali perbincangan dengan Tirto. “Aku mau beli ayam seekor buat masak hari itu aja harus rebutan sama ibu-ibu yang beli ayam sampai 15 ekor. Belum lagi yang pada borong beras, gula, sampai berkarung-karung. Banyak juga yang borong jahe, jadinya harga jahe mahal sampe Rp50 ribu padahal biasanya Rp35 ribu. Aku cuma beli satu batang, buat masak.” Hal lain yang sulit didapat Ayu bahkan hingga saat ini adalah masker dan juga hand sanitizer. Ayu bilang, ia mencari dua barang ini lantaran pihak sekolah sang anak mewajibkan setiap anak untuk membawa cairan pembersih tangan. Benda itu menurut Ayu masih sulit dicari hingga saat ini, termasuk masker di berbagai convenience store dekat rumahnya di bilangan Cibubur. “Hand sanitizer sama masker sudah dari pas pengumuman Indonesia terpapar Virus Corona, barangnya langsung sulit dicari. Jujur aja, aku engga ikut-ikutan panic buying karena menurutku, sebaran Virus Corona di sini masih bisa tertangani. Semoga memang benar bisa tertangani dengan baik,” harap Ayu. Baca juga: Jubir Penanganan COVID-19 Tampik Potensi RI Lockdown Akibat Corona Panic Buying dan Ekonomi Penimbunan barang yang dilakukan oleh konsumen atau masyarakat ketika ada situasi tertentu yang dipandang gawat atau darurat kerap dikenal dengan istilah panic buying. Perilaku panic buying ini menurut Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dipicu oleh faktor psikologis yang biasanya terjadi karena informasi tidak sempurna atau menyeluruh yang diterima oleh masyarakat. Akibatnya, timbul kekhawatiran di masyarakat sehingga menimbulkan respons tindakan belanja secara masif sebagai upaya penyelamatan diri. Terdapat dua bentuk kekhawatiran yang terjadi di masyarakat. Pertama adalah khawatir kalau tidak belanja sekarang, bisa saja besok harga barang naik. Kedua, jika tidak belanja sekarang, maka esok hari barangnya sudah tidak ada.

Nama : Seto Prasetyo
Kelas: X MIPA 3
NO.Absen: 27
Adin Alkomani mengatakan…
Nama:Adin Alkomani
Kelas:X IPS 1
Nomor absen: 1

Menurut pendapat saya tentang dampak permintaan dan penawaran di pasar akibat Covid-19

Covid-19 atau lebih kita kenal dengan virus corona yang saat ini tengah mewabah di negara kita tercinta ini.
Virus corona merupakan virus yang sangat membahayakan yang dapat menyebabkan kematian.
Virus ini pertama kali ditemukan di kota wuhan, China pada akhir desember 2019 kemarin.
Virus ini dengan cepat menyebar kebeberapa negara seperti, China, Italia, Amerika Serikat, Korea Selatan, Indonesia dan masih banyak lagi.
Virus ini dapat tertular apabila kita berinteraksi langsung dengan pasien yang terinfeksi Covid-19.
Di Indonesia sendiri sudah lebih dari 1000 orang yang positif terkena virus ini.
Semenjak di umumkanya 2 warga negara di Indonesia yang postif Terkena Covid-19,masyarakat langsung menerapkan pola hidup sehat,bahkan warga langsung berbondong-bondong membeli beberapa alat kesehatan seperti hand sanitizer, antiseptik dan masker.
Karena ini beberapa alat kesehatan banyak habis terjual,ini dapat menyebabkan kelangkahan untuk dibeberapa daerah.bahkan harganya melonjak naik 3 kali lipat dari seperti yang biasanya.
Adanya Covid-19 berdampak dalam sektor perkenomian masyarakat dalam hal permintaan dan penawaran.
•Permintaan
Permintaan masyarakat pada beberapa barang yang di inginkan tidak dapat terpenuhi karena adanya kelangkahan dalam mendapatkan barang.
•Penawaran
Harga barang tidak bisa dilakukan penurunan atau pengurangan karena harga penjualan barang sangat tipis.
Anonim mengatakan…
Nama:Nadela Maresta
Kelas:X Ips 1

Sejak COVID-19 ini warga harus menjaga kebersihan dan harus bekerja di dalam rumah, atau pun braktivitas di dalam rumah, agar Covid 19 in tidak menyebar luas, dan harus mencuci tangan setelah melakukan kegiatan di luar rumah, terutama nya harus mencuci tangan pakai sabun dengan air yang mengalir,dan menjaga pola makan yang sehat, agar kita tidak terjangkit virus corona atau Covid 19,

Karena virus ini sangat bahaya bagi kalangan manusia,dan sekrangpun dunia harus melawan corona,


Sejak datang nya virus corona in atau Covid 19 menjadi wabah di hampiri seluruh dunia, dan persediaan masker atau larutan pembunuh kuman, dan alat pelindung lainya mengalami kelangkaan, hal in di sebabkan oleh penimbunan yang di lakukan masyarakat di indonesia dalam mencegah penularan virus Covid 19 in.

Dan harga maskeer pun semakin mahal di jual oleh masyarakat,akibatnya harga alat kesehatan dan termasuk masker mengalami kenaikan yang hingga berkali lipat
Rezza Nabila mengatakan…
Nama:Rezza Nabila
Kelas:X.MIPA 4
No.absen:23
Tugas:Apa dampak covid-19 terhadap permintaan dan penawaran harga barang di pasar yang kamu ketahui.

Covid-19 atau yang kerap kita sebut sebagai virus corona merupakan virus yang menyerang sistem pernapasan. Banyak hal yang berubah karena virus ini,mulai dari pembelajaran,bersilaturahmi,sampai beribadah,dan juga pada sistem penawaran dan permintaan pun terdapat perubahan yang signifikan.
Menurut saya,dampak adanya covid 19 terhadap permintaan dan penawaran harga barang di pasaran yakni, Jumlah permintaan dan penawaran semakin terus meningkat, banyak warga yang membeli bahan pokok dengan jumlah banyak, akibat virus corona ini juga ada orang yang menjadi egois dengan memborong atau menimbun barang-barang kesehatan seperti masker, dan hand sanitizer dengan skala besar, sehingga menyebabkan kelangkaan barang di pertokoan, dalam hal tersebut tentu kelangkaan barang menyebabkan harga suatu barang meningkat, dengan demikian penawaran dan permintaan akan terus meningkat.
Rahmah adelia putri mengatakan…
Apabila setiap kota ataupun daerah melakukan lockdown maka itu akan sangat mempengaruhi permintaan dan penawaran harga barang yang ada, mengapa? Sebab apabila lockdown dilakukan itu suatu kondisi dimana semua orang memberhentikan kegiatan diluar rumah, jadi sebelum lockdown di lakukan maka semua orang akan membeli setiap kebutuhan pokoknya untuk dari awal lockdown dilakukan sampai dengan lockdown dihentikan, apabila semua orang membeli bahan bahan pokok maka bahan pokok pun akan menipis persediaannya dan harganya akan naik, di dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.

Nama: Rahmah adelia putri
Kelas : X MIPA 4
No. Absen: 22
Midun setiawan mengatakan…
Nama : Muhammad Midun Setiawan
Kelas: X IPA 2

menurut pendapatmu apa dampak covid-19 terhadap permintaan dan penawaran harga barang dipasar yang kamu
ketahui?

Pada Bulan Maret 2020 awal, Indonesia memulai perperangan untuk menghadapi pandemi Virus Corona (Virus Covid 19) yang mulai masuk di Indonesia. Tentunya dengan masuknya pertama kali Virus Corona (Virus Covid 19) di Indonesia akan memberikan dampak secara tidak langsung untuk negara Indonesia yang paling terasa adalah dampak dari Perekonomian dari negera Indonesia.
Sebagai informasi, Virus Corona (Virus Covid 19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh coronavirus yang paling baru ditemukan. Virus dan penyakit baru ini tidak diketahui sebelum wabah dimulai di Wuhan, Cina, pada bulan Desember 2019 dan masih berlangsung hingga saat ini. Bahkan pada bulan maret WHO mengumumankan bahwa Virus Corona (Virus Covid 19) ini merupakan pandemi global yang harus diselesaikan bersama-sama karena sudah meluas disetiap negara.

Virus Corona (Virus Covid 19) memberikan dampak yang luarbiasa untuk kelangsungan bisnis Anda. Bahkan dari IDCloudhost sendiri mencatat ada banyak lini bisnis yang terkena salah satunya adalah disektor pariwisata terutama hotel-hotel yang mulai untuk memulangkan beberapa karyawan mereka.

Pada akhirnya, masyarakat menjadi khawatir sehingga timbul lah respons berupa belanja secara masif dalam upaya penyelamatan diri.
Sementara itu, ia juga menjelaskan bahwa terdapat dua kekhawatiran yang muncul di masyarakat. Pertama, khawatir jika tidak belanja sekarang bisa saja besok harga barang naik. Kedua, jika tidak belanja sekarang, persediaan barang telah habis untuk esok hari.
Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.
Lebih lanjut, daya beli masyarakat akan menurun. Misalnya, ketika uang Rp10 ribu sudah sapat digunakan untuk membeli masker, sekarang tidak cukup lagi karena harganya telah naik hingga berkali-kali lipat. Masyarakat harus menyiapkan uang yang lebih banyak untuk mendapatkan barang dengan jumlah yang sama.
Unknown mengatakan…
Nama : Afif Aska Nugraha
Kelas : x ipa 1
No.Absen : 01


Menurut saya, semenjak adanya virus COVID 19 seluruh masyarakat sulit dalam mencari kebutuhsan pokok,apalagi saat ini di Indonesia sudah semakin banyak orang yg terkena virus tersebut, maka dari itu pemerintah memberlakukan perintah social distancing untuk tidak keluar rumah selama masa pandemi corona ini agar korban yg terrkena virus tidak semakin banyak.

Pada masa social distancing ini banyak orang yg belanja dengan skala besar, terutma bahan pangan, serta barang barang untuk mencegah penularan virus seperti masker dan hand sanitizer,sehingga banyak orang yang ingin berbelanja malah kehabisan. Kalaupn ada pasti harganya meningkat drastis. Hal inilah yg membuat ekonomi indonesia hancur.

Selain itu, pada masa ini orang orang yg berjualan mengalami penurunan, karena sedikitnya pelanggan yg pergi berbelanja di luar karena keteentuan dri pemerinntah, hal ini dapat menyababkan para pegadang tidak bisa mendpatkan uang dan bisa mengalami bagkrut.

Seharusnya pemerintah mengambil langkah agar perekonomian indnesia tidak anjlok.

Jumat, 3 April 2020 15:07 WIB
Febiola Dinda Natalia mengatakan…
Nama :Febiola Dinda Natalia
Kelas:X MIPA 6
No.Absen :10
Tugas: Ekonomi

Apa dampak covid-19 terhadap permintaan dan penawaran harga barang dipasar??

Menurut pendapat saya dampak dampak covid-19 terhadap permintaan dan penawaran harga barang dipasar yaitu:
Dampak covid-19 sangat berpengaruh besar terhadap perekonomian diseluruh dunia terutama dipasaran global dimana,kebutuhan persediaan barang dan permintaan tidak seimbang apa lagi sekarang dilakukan sistem lockdown artinya semua persediaan barang yang diimpor dan diekspor dibatasi karna keterbatasan barang tersebut berdampak sangat tinggi terhadap harga barang dipasaran itu disebabkan karna pemasukan dimasyarakat yang menurun sehingga sulit untuk rakyat membeli kebutuhan dipasar dan mau tidak mau masyarakat harus membatasi kebutuhan mereka sebab pengaruh dari tidak siknifikannya antara permintaan dan penawaran.
Dari dibatasi antara permintaan dan persediaan barang sehingga membuat penawaran juga ikut berpengaruh kemasyarakat,melonjaknya harga barang,langkahnya barang pokok.
Dampaknya akan semakin memburuk jika tidak ada penanggulangan atau tindakan dari pemerintah yang membantu masyarakat dalam sistem permintaan dan penawaran saat ini.

Unknown mengatakan…
Nama:Tria mitha agustin
Kelas:X MIPA 6
Tugas:Eknomi

Menurut saya Dalam ekonomi, terdapat teori permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang tinggi karena jumlahnya yang sedikit, penawaran terhadap harga barang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, harga akan meroket akibat permintaan dari masyarakat yang tinggi disertai dengan barang yang langka. Ini lah yang kemudian terjadi akibat panic buying tersebut.
Unknown mengatakan…
Nama: Yuni Astuti
Kelas: X IPA 4
NO.Absen: 32


Virus Corona merupakan jenis baru coronavirus yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Coronavirus termasuk keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan.



Pada manusia, virus corona menyebabkan penyakit flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Sindrom Pernafasan Akut Berat. Virus yang sangat mencemaskan masyarakat hampir diseluruh dunia hingga hari ini masih menyita perhatian banyak Negara di dunia.

Penyebaran virus Corona masih menyebar secara global. Jumlah kasus baru positif Virus Corona juga bertambah cepat, terutama di China.


Jika memang memiliki gejala-gejala seperti deman tinggi, sakit kepala, flu, sesak nafas, batuk parah, dan sakit tenggorokan dihimbau untuk merujuk kerumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan.

Terkait dengan penggunaan masker hal ini menyebabkan penggunaan masker pun meningkat di Indonesia. Salah satu masker yang paling banyak permintaannya adalah masker N95 atau masker respirator.

Masker ini disebut efektif untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona di Indonesia karena mempunyai kemampuan untuk menyaring udara 95 persen. Permintaan masker di pasar-pasar di Indonesia pun meningkat. Akibatnya harga masker melambung tinggi.

Tingginya harga masker membuat para konsumen yang membutuhkan masker mengeluh akan kenaikan masker. Bahkan ada yang mendapati harga masker naik 10 kali lipat dari harga masker biasa.

Tanpa kita sadari naiknya harga masker juga berpengaruh terhadap perlindungan konsumen. Sudah saatnya kenaikan harga masker membuat konsumen mengerti akan hak-hak nya. Faktanya para konsumen tidak mengerti bahwa terdapat hak-hak mereka yang tidak terpenuhi.

Dari sekian banyak dari hak-hak konsumen, dengan kenaikan harga masker ini ada beberapa hak-hak konsumen yang dilanggar atau tidak terpenuhi.

Berikut ini tidak terpenuhi hak-hak konsumen akibat kenaikan harga masker. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau jasa.

Dari hak konsumen ini, kita tahu bahwa harga masker bukanlah harga yang sebenarnya atau tidak sesuai dengan harga normal, hal itu disebabkan oleh naiknya permintaan masker membuat harga masker juga ikut melambung tinggi.

Tindakan pelaku usaha untuk menaikkan harga tidak akan memberikan reputasi positif pada usahanya dan dapat menghambat usaha mereka di masa yang akan datang karena kekecewaan konsumen. Berikutnya hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang atau jasa yang digunakan.

Mengenai hak ini, banyaknya keluhan para konsumen yang tidak mampu membeli masker dengan harga yang tinggi sehingga para konsumen mengeluh, namun mengeluhnya konsumen itu sama sekali tidak menurunkan harga masker itu artinya keluhan konsumen tidak didengarkan bahkan tidak berpengaruh terhadap masalah atau keluhan yang ada.

Kemudian hak konsumen untuk diperlakukan atau di layani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. Seperti yang telah kita lihat dan kita ketahui bahwa beberapa waktu yang lalu telah terjadi kasus penimbunan masker dibeberapa daerah. Kasus tersebut terjadi di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur.

Hal ini tentunnya sangat melanggar hak-hak konsumen karena telah diperlakukan secara tidak jujur bahkan ada yang berbuat curang dengan cara mengumpulkan masker-masker yang sudah terpakai kemudian dijual kembali.

Hal tersebut sangat perlu diperhatikan, saatnya para konsumen mengerti akan hak-hak mereka bahkan mereka bisa melaporkan kejdian ini kepada Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), bahkan hal ini dapat menjadi acuan agar tidak ada kasus-kasus yang merugikan konsumen dan melanggar hak-hak konsumen.

Https://ekonomi.bisnis.com
Nur syafika azzahra mengatakan…
Iindonesia bahkan seluruh dunia diwabah pandemi virus corona atau COVID-19 yang menjadi masalah global sekarang ini. Banyak sekali kehambatan yang terjadi dalam segala bidang pada sistem stabilisasi negara mulai dari bidang pendidikan, sosial, berikutnya ekonomi.Nah pada bidang ekonomi inilah yang akan saya bahas.

Bagaimana menurut pendapat saya mengenai pengaruh COVID-19 terhadap permintaan dan penawaran harga barang dalam bidang ekonomi?

Sejak maraknya berita berita yang tersebar di masyarakat mengenai pasien positif corona memicu psikologis setiap individu yang menyebabkan rasa khawatir akan terjangkit dan menimbun belanjaan lebih awal sebelum pandemi semakin menyebar atau disebut dengan "panic buying" dimana disini permintaan intensitasnya lebih tinggi dari pada penawaran sehingga sesuai dengan hukum yang ada bahwa ketika permintaan semakin tinggi, dan barang yang ditawarkan sedikit, maka yang terjadi harga setiap barabg tersebut mengalami kenaikan drastis.

Efek yang terjadi membuat masyarakat mengalami kerugian besar tanpa mereka sadari, dan kejadian ini tentunya berefek pada mereka para rakyat yang tergolong jenjang sosial rendah yakni mereka mungkin akan lebih sulit untuk memenuhi kebutuhan mereka karena harga barang yang dibutuhkan melonjak keras.

Selanjutnya, penimbunan barang kebutuhan ini lebih dominan dilakukan oleh masyarakat jenjang sosial tinggi, maka apa kabar mereka yang sakit namun tak cukup ekonomi. Mereka lebih butuh daripada mereka yang meniumbun maka ini akan membuat keadaan makin krisis.

Jadi, kita semua yang menjadi konsumen, tetap setarakan permintaan dan belilah hal yang dibutuhkan. Sebelum panic buying tolong pikirkan mereka yang lebih butuh dibanding anda akan pusing.
Siti Rahmah mengatakan…
Nama : Siti Rahmah
Kelas : X Mipa 4

Dampak Covid-19 terhadap permintaan dan penawaran harga barang di pasar.

Seperti yang kita sudah ketahui,
saat ini dunia sedang dihadapkan dengan pandemik Virus Corona. Virus Corona yang berasal dari China ini juga sudah menyebar luas di Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Indonesia sudah melakukan upaya untuk memutus rantai penularan Covid-19 di Indonesia dengan memberlakukan sosial distance dan physical distance. Upaya tersebut cukup efektif untuk meminimalisir terjadinya penularan virus Corona ini. Selain itu, pemerintah juga sudah mengeluarkan beberapa kebijakan seperti melakukan penutupan tempat ibadah,pasar dan pusat perbelanjaan yang sekarang sudah diberlakukan di daerah yang cukup tinggi resiko penularan. Pemerintah juga berencana untuk melakukan karantina wilayah atau lockdown , namun kebijakan tersebut belum diberlakukan oleh pemerintah.

Virus Corona atau Covid-19 menyebab kan dampak positif dan dampak negatif. Salah satu dampak positifnya adalah membuat masyarakat lebih menjaga kebersihan hidup lingkungan masing-masing. Salah satu dampak negatifnya adalah terhadap ekonomi Indonesia yang menyangkut permintaan dan penawaran harga barang di pasar. Menurut saya, dampak tersebut membuat harga barang melambung tinggi. Hal tersebut dikarenakan banyaknya permintaan jumlah barang namun hal tersebut justru membuat harga barang menjadi lebih mahal. Kenaikan harga barang yang terjadi tentu membuat masyarakat yang kurang mampu sulit untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya.

Jika pemerintah benar-benar memberlakukan kebijakan lockdown atau karantina wilayah di Indonesia, maka akan berdampak pada naiknya harga barang di pasar maupun di pusat perbelanjaan. Permintaan jumlah barang kebutuhan tentu akan semakin banyak tetapi hal tersebut membuat harga barang di pasar atau pusat perbelanjaan justru cenderung lebih mahal. Hal ini disebabkan karena akan terjadinya Panic Buying, sehingga masyarakat berbondong-bondong membeli sejumlah kebutuhan pokok secara berlebihan yang tentu akan berdampak terhadap permintaan dan penawaran harga barang di pasar. (Opini sendiri)
Rangga mengatakan…
Covid-19 merupakan virus corona yang berasal dan pertama kali muncul dari kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Di duga Covid-19 ini berasal dari hewan kelewar dan setelah di telusuri, orang-orang yang terinfeksi virus ini merupakan orang-orang yang memiliki riwayat telah mengunjungi pasar basah makanan laut dan hewan lokal di Wuhan, China.dan menyebar dari orang ke orang,hingga virus ini telah sampai ke indonesia,kedatangan virus ini sangat mengacaukan perekonomian global ,dan di Indonesai berdampak pada pemerintahan dan perekonomian indonesia. Dampak pada pemerintah bisa kita lihat adanya warga indonesia yang terinfeksi virus dan menyebabkan keresahan warga yang mendesak pemerintah untuk secepatnya menangani virus ini dan banyak perekonomia negara tertunda,serta dampak pada pemasaran adalah banyak oknum mengambil kesempat dengan adanya virus ini dengan melakukan penimbunan masker ,hand sanitizer, antiseptik dan lain lain menimbulkan kelangkahan yang kemudian di jual dengan harga yg sangat mahal dan menyebabkan kenaikan harga beberapa sembako karena banyak orang menyetok banyak pangan dan bahan makanan karena pemerintah melarang keluar rumah dan mengumumkan sementara aktivitas di lockdown untuk mencegah penyebaran virus covid 19 ini
Nama:Rangga dzul fitrah
Kelas:X ipa 2
Nadia khomanecy mengatakan…
Nama:Nadia khomanecy
Kelas:X.ips2
No absen:15

COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru ditemukan.

Sebagian besar orang yang terinfeksi virus COVID-19 akan mengalami penyakit pernafasan ringan hingga sedang dan sembuh tanpa memerlukan memerlukan perawatan khusus.

Orang lanjut usia (lansia) yang berusia di atas 60 tahun dan yang memiliki masalah medis mendasar seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernafasan kronis, dan kanker, memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit parah hingga kematian.

Cara terbaik untuk mencegah dan memperlambat penularan COVID-19 adalah mempunyai wawasan memadai mengenai penyakit tersebut dan cara penyebarannya
Rokimah mengatakan…
Nama:rokimah
kelas:X ips 2
noAbsen:25

Penyebaran virus bernama Covid-19 yang telah menyebar ke negara di luar China dalam beberapa minggu terakhir telah mengakibatkan kejatuhan ekonomi yang signifikan. Rantai pasokan terganggu dan permintaan konsumsi domestik di negara-negara terdampak saat ini sedang tertekan. Sektor pariwisata dan perdagangan mengalami pelemahan terbesar.



Pertumbuhan ekonomi Tiongkok perkiraannya turun dari 5,2% ke 4,8%. Lalu, Korea Selatan hanya tumbuh 1,4% dari perkiraan sebelumnya di 1,9%. Jepang angkanya di 0%.

Italia diperkirakan akan mengalami resesi. Pertumbuhannya diperkirakan minus 0,5%. Jerman akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, dari perkiraan 1% menjadi 0,3%. Amerika Serikat ekonominya hanya naik 1,5% dari prediksi awal 1,7%.


Di tengah kelesuan ekonomi ini, menurut Moody’s, perekonomian masih bisa diselamatkan dengan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat. Hal ini terlihat dari keputusan bank sentral AS, Federal Reserves, memangkas suku bunga 50 basis poin. Pengumuman bank sentral Eropa dan Jepang yang akan membatasi volatilitas pasar keuangan juga menjadi langkah tepat.

Postingan populer dari blog ini

Soal Essai Pendapatan nasional